Beri Pesan Perdamaian di Masjid Kazakhstan, Grand Syekh: Tida Ada Tempat bagi Teori Konflik Peradaban
Grand Syekh Al-Azhar beri sambutan usai Salat Jumat di Masjid Agung Nur Sultan, Kazakhstan, 16 September 2022.
Grand Syekh Al-Azhar berkesempatan melaksanakan Salat Jumat di Masjid Agung Nur Sultan, Kazakhstan, dalam rangkaian kunjungannya mengikuti Konferensi ke-7 Pemuka Agama Dunia.
Salat Jumat dihadiri mantan Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev, serta sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat. Ribuan jamaah hadir juga, melaksanakan salat Jumat bersama Syekh Al-Tayeb, sekaligus melepas kunjungan resminya selama lima hari di Kazakhstan.

Usai salat Jumat, Grand Syekh didaulat menyampaikan sambutan di hadapan ribuan jamaah Masjid Nul Sultan. Syekh Al-Azhar Ahmed Al-Tayeb mengungkapkan rasa gembiranya berkunjung ke Kazakhstan. Ketua Majelis Hukama Muslimin (MHM) ini juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan rakyat Kazakhstan yang telah memberikan penyambutan luar biasa dalam kunjugannya.
Grand Syekh juga merasa bangga dapat berdialog dengan anak-anak muda Kazakhstan, di samping dapat berguru dengan ulama-ulama Kazakhstan masa lalu melalui karya mereka. Menurutnya, Ulama-ulama asal Kazakhstan telah menerangi cakrawala peradaban Islam sejak masa awal Islam, salah satunya adalah filsuf Abu Nash Al-Farabi. Pada saat yang sama, kata Sykeh Al-Tayeb, Kazakhstan juga memiliki tokoh pemimpin agung seperti Al-Zahir Baybars yang dikenal luas di kalangan umat Islam dunia sebagai seorang pemimpin yang mengembalikan kehormatan Islam dan umat Islam dan membentengi dua tanah suci dari serangan musuh.

Kepada kalangan anak muda, Ketua MHM berpesan bahwa harapan masa depan umat berada di pundak pemuda untuk menghidupkan kembali khazanakah keilmuan Islam masa lalu dengan cara mengkajinya dan menerbitkannya kembali. Syekh Al-Azhar juga berpesan agar generasi muda terus memupuk dan mengukuhkan persaudaraan antarumat Islam maupun dengan penganut agama lain.
“Semua manusia adalah sama, berasal dari satu ayah dan satu ibu,” pesannya seraya mengutip surah Al-Hujurat ayat 13.
“Karena itu, tidak ada tempat bagi teori konflik peradaban, akhir sejarah, bangsa unggul dan bangsa rendah, ataupun teori-teori lain yang dianut oleh sebagian masyarakat dunia. Teori-teori semacam itu bertentangan dengan kehendak Allah dan, karenanya, cepat atau lambat pasti akan runtuh,” sambungnya.

Grand Syekh mengajak semua pihak untuk mengisi dunia ini dengan perdamaian sebagai icon bagi hubungan antarbangsa. Imam Akbar juga mengingatkan, pandangan bahwa agama adalah sumber konflik dan penyebab perang, sama sekali tidak benar. Seruan untuk meninggalkan agama untuk menjamin terciptanya dunia yang damai, adalah bohong belaka. Kita sudah menyaksikan kebohongannya sekarang di mana dunia harus membayarnya dengan harga mahal akibat konflik, perang, masa depan yang tidak jelas, dan pertumpahan darah yang tidak ada hubungannya dengan agama.
Di penghujung kuliah umumnya, Syekh Al-Azhar membantah upaya mengaitkan perang yang terjadi dalam sejarah umat manusia dengan ajaran agama. “Ajaran agama apa pun tidak membenarkan pertumpahan darah. Apa yang terjadi dalam sejarah itu lebih merupakan eksploitasi agama untuk kepentingan tertentu,” tandasnya.