Dari Tiongkok ke Amerika Serikat, MHM selama 2025 Hadir di kancah Global Promosikan Perdamaian dan Lawan Ujaran Kebencian
.
Sepanjang 2025, Majelis Hukama Muslimin (MHM), di bawah kepemimpinan Grand Syekh Al Azhar, Imam Akbar Dr. Ahmed Al-Tayeb, mempertahankan kehadirannya di dunia internasional dan terus aktif dalam berbagai konferensi dan forum regional dan global yang membahas isu-isu perdamaian masyarakat, dialog antaragama, memerangi ekstremisme dan ujaran kebencian, mempromosikan penggunaan kecerdasan buatan secara etis, dan menegaskan kembali peran para pemimpin agama dalam mengatasi tantangan global.
Melalui siaran pers, Kamis (24/12/2025), MHM menjelaskan bahwa sepanjang tahun ini terus berpartisipasi dalam beberapa konferensi intelektual dan keagamaan tingkat tinggi yang mengeksplorasi tantangan etika dan intelektual yang dihadapi dunia. Pertemuan-pertemuan ini menekankan perlunya memulihkan peran nilai-nilai kemanusiaan dan agama dalam membangun masyarakat yang kohesif, memperkuat budaya saling pengertian dan saling menghormati antar bangsa, dan menegaskan kembali bahwa dialog yang bertanggung jawab—yang berakar pada kebijaksanaan dan moderasi—adalah landasan untuk mengatasi konflik ideologis dan agama. MHM juga menyoroti peran penting para pemimpin agama dalam melindungi masyarakat dari ekstremisme dan perpecahan.
Kegiatan internasional utama pada 2025 termasuk Forum Chan di Tiongkok, KTT Global tentang Kebebasan Beragama di Washington D.C., dan Dialog Wilton Park di Inggris tentang peran dan tanggung jawab para pemimpin agama dalam respons krisis. MHM juga berpartisipasi dalam KTT Keadilan, Cinta, dan Perdamaian Global di Expo Dubai dan konferensi internasional “Maturidisme: Sekolah Toleransi, Moderasi, dan Pencerahan” di Uzbekistan. Selain itu, MHM berkontribusi pada simposium “Memori dan Hubungannya dengan Martabat Manusia: Peluang dan Tantangan Penuaan Penduduk Global”, di mana sebuah dokumen internasional yang mendukung perlindungan dan martabat para lansia diluncurkan.
Acara penting lainnya termasuk Forum Antar Agama G20 di Addis Ababa, Forum Media Arab di Dubai, konferensi global “Menemukan Keberanian untuk Mengejar Perdamaian” di Italia, Sesi ke-16 Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) di Jenewa, dan Kongres ke-8 Pemimpin Agama Dunia dan Tradisional di Kazakhstan. MHM juga terlibat dalam pertemuan Dewan Dunia Agama untuk Perdamaian, Forum Internasional Astana (AIF), upacara pelantikan Paus Leo XIV sebagai pimpinan Gereja Katolik, Forum Media Persatuan Penyiaran Organisasi Kerja Sama Islam di Fujairah, dan Festival Toleransi Nasional di Uni Emirat Arab.
Selain itu, MHM turut menyelenggarakan beberapa acara internasional besar pada 2025, termasuk Konferensi Dialog Islam-Islam di Kerajaan Bahrain, Forum Antar Agama G20 di Afrika Selatan, dan Konferensi Internasional Ketiga tentang Pemberantasan Islamofobia di Azerbaijan. MHM juga menyelenggarakan diskusi panel internasional di Kazakhstan tentang peran para pemimpin agama dalam mempromosikan perdamaian berkelanjutan, Konferensi Pemuda Lokal tentang Perubahan Iklim di Mesir, dan lokakarya internasional berjudul “Media dan Jurnalisme Perdamaian di Era Kecerdasan Buatan” di Kazakhstan. Lebih lanjut, Dewan menyelenggarakan simposium nasional “Ketika Ulama Bertemu Algoritma” di Indonesia.
MHM juga melakukan kunjungan ke negara bagian Utah, AS, bertemu dengan para pemimpin agama, akademisi, dan pejabat pemerintah, serta menyambut delegasi dari lembaga internasional dan gereja-gereja global untuk memperkuat nilai-nilai persaudaraan antarmanusia, memperluas kerja sama antaragama, dan mendukung inovasi etis dalam kecerdasan buatan.
Upaya-upaya ini mencerminkan visi MHM untuk mengubah nilai-nilai keagamaan bersama menjadi alat yang efektif untuk membangun perdamaian global dan mendorong kolaborasi di antara lembaga-lembaga keagamaan dan intelektual di seluruh dunia. Menjelang 2026, Majelis Hukama Muslimin akan melanjutkan misinya untuk mempromosikan perdamaian secara global, menyebarkan nilai-nilai dialog, toleransi, dan hidup berdampingan, menegaskan kembali peran para pemimpin agama dalam mengatasi tantangan global, dan memajukan penggunaan kecerdasan buatan secara etis.