Di hadapan 400 Muslimah, Delegasi MHM Berbagi Tujuh Langkah Didik Generasi Rabbani
.
Ulama Perempuan lulusan Al Azhar yang menjadi delegasi Majelis Hukama Muslimin, Dr Sara Atha Amin Mohammed, melanjutkan Safari Ramadan 1446 H di Provinsi Aceh. Ulama ahli Ushul Fiqih ini berbagi pengetahuan tentang peran Ibu dalam mendidikan generasi Rabbani dengan 400 muslimah yang berkumpul di Gedung Landmark BSI Kota Banda Aceh dalam Safari Ilmiah.
“Ibu memiliki peran yang sangat penting dalam mendidik dan membentuk karakter anak-anak. Dalam Islam, ibu adalah pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya,” ujarnya di Aceh, Jumat (14/3/2025).
Menurutnya, pribadi ibu yang Rabbani dicirikan sebagai sosok yang taat kepada Allah, penuh kasih sayang, bijaksana, dan penuh perhatian. Karakter ini sangat memengaruhi proses pendidikan anak.
“Penting dalam membentuk keluarga yang rabbani dengan merencanakannya sejak awal, terutama dalam proses perencanaan memilih pasangan agar tercipta keluarga bahagia yang di dalamnya terdapat kedamaian,” pesannya.
“Kebaikan seorang ibu akan membawa kebaikan untuk seluruh umat,” sambungnya.

Dijelaskan Dr. Sara, Al-Quran memberikan banyak petunjuk yang dapat membantu seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya, membentuk generasi muda yang bukan hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia dan taat kepada Allah.
Pertama, Niat. Niat menikah dalam Islam bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan biologis. Lebih dari itu, menikah adalah ibadah yang bertujuan untuk mendapatkan keridhaan Allah. Menikah merupakan langkah mulia untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.
“Niat yang benar dalam menikah adalah untuk mencari pasangan hidup yang dapat saling mendukung dalam ibadah, berbagi kebaikan, dan membangun rumah tangga yang penuh kasih sayang,” sebutnya.
Kedua, perbaiki pondasi agar hal cabang lainnya terwujud dengan baik. Memilih istri yang salihah untuk menjadi seorang ibu merupakan usaha menyiapkan pondasi yang baik. “Jika ibunya baik, maka anak-anak pun menjadi baik,” tuturnya.
Ketiga, memilih nama yang baik untuk anak. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, ada kisah sahabat yang memberi nama anaknya dengan nama yang tidak baik. Suatu hari, seorang sahabat datang kepada Nabi Muhammad SAW untuk meminta nasihat tentang nama anaknya. Nabi SAW menanyakan nama anak tersebut, dan sahabat itu menjawab bahwa dia memberikan nama anaknya dengan nama yang kurang baik atau tidak sesuai dengan akhlak yang baik.
Nabi Muhammad SAW sangat tidak menyarankan pemberian nama buruk bagi seorang anak. Dalam ajaran Islam, nama adalah doa dan harapan bagi pemiliknya. Nama yang baik mencerminkan karakter yang baik, serta memberikan pengaruh positif dalam kehidupan. Nabi SAW lalu menasihati agar mengganti dengan nama yang lebih baik, yang mencerminkan sifat terpuji dan penuh harapan positif.
“Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pemberian nama dalam Islam, dan betapa besar pengaruh nama terhadap pribadi seorang anak,” ucapnya.
Keempat, ajarkan mereka hal-hal yang baik dan didiklah mereka dengan kebaikan. Ayat 15 surah Al-Ahqaf menunjukkan pentingnya orang tua mendidik anak dengan baik, serta memberikan arahan untuk berbakti dan mendidik mereka dalam kebaikan sepanjang hidup mereka. "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dengan susah payah yang bertambah-tambah..."

Kelima, memberikan ASI. Memberikan ASI kepada anak akan melekatkan hubungan antara ibu dan anak. Sebelum Nabi Musa dihanyutkan di Sungai, Allah perintahkan ibu Musa untuk menyusuinya terlebih dulu. Ketika Musa berada di istana Firaun dan Asiah merawatnya, Musa menangis meminta susu. Lalu Asiah mengumpulkan semua perempuan yang dapat membuat Musa berhenti menangis. Ada beberapa yang mencoba menyusui Musa namun ternyata Musa hanya bisa berhenti menangis ketika ibunya langsung yang menyusuinya.
Keenam, berikan tanggung jawab pada anak. Contohnya ummu Musa yang memerintahkan saudari Musa mengikuti aliran perjalanan Nabi Musa di sungai. Saudari Musa, yang tidak disebutkan namanya dalam Al-Quran, diperintahkan oleh ibunya untuk mengikutinya dari jarak jauh, dengan hati-hati. Dia diminta mengamati agar Musa tidak jatuh ke tangan orang yang akan membahayakannya.
Dalam QS. Al Qasas: 11 Allah berfirman: "Dan saudara perempuan Musa berjalan di belakang (peti itu), lalu dia berkata: 'Aku akan memberitahukan kepadamu orang yang dapat menyusui anak ini.' Maka mereka pun mengambilnya (Musa) dengan penuh harapan agar Musa tidak jatuh ke tangan mereka." (QS. Al-Qasas: 11)
Ketika peti yang berisi Musa ditemukan oleh keluarga Firaun, mereka terkejut dan sangat terkesan oleh bayi yang ditemukan, yang tak lain adalah Musa. Namun, karena bayi itu tidak mau menyusui siapa pun, mereka merasa bingung. Pada saat itulah saudari Musa dengan bijaksana menawarkan diri untuk mencari seorang ibu susu yang dapat menyusui bayi itu.
Akhirnya, ia membawa ibu kandungnya, yang kemudiandipanggil oleh keluarga Firaun untuk merawat dan menyusui Musa, tanpa mereka mengetahui bahwa ia adalah ibu kandung Musa. Dengan demikian, Allah SWT tidak hanya menyelamatkan Musa, tetapi juga mengembalikan ibu Musa untuk merawat anaknya kembali dalam keadaan yang aman dan penuh berkah
Ketujuh, jangan pernah ceritakan keburukan anak di depan umum. Sebab, orang tidak akan lupa pada apa yang diceritakan itu. Dalam ajaran Islam, menjaga kehormatan dan martabat orang lain sangat ditekankan, termasuk kehormatan anak.
Rasulullah SAW bersabda dalam salah satu hadis: "Barang siapa yang menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat." (HR. Muslim)
“Ini juga berlaku untuk anak-anak. Sebagai orang tua, kita dianjurkan untuk selalu menjaga martabat dan aib anak, tidak mengungkapkannya kepada orang lain,” pesan Dr Sara.
“Memberikan kesempatan kepada anak untuk memperbaiki kesalahannya dengan cara yang mendidik dan penuh kasih akan lebih bermanfaat daripada membicarakan keburukan mereka di depan umum,” tandasnya. (Ikrimasofyan)