Harmony Camp, TGB Bekali Generasi Muda Bangun Tatanan Peradaban dan AI
.
Dunia saat ini sedang dihadapkan pada sejumlah tantangan, mulai dari konflik, kesalahpahaman, termasuk juga krisis ekologis, dan perkembangan teknologi informasi. Anggota Komite Eksekutif Majelis Hukama Muslimin (MHM) Dr TGB M Zainul Majdi, MA berbagi tentang tiga hal penting yang perlu menjadi perhatian bersama bagi generasi muda dalam membangun tatanan dan menjawab tantangan.
Hal ini disampaikan TGB M Zainul Majdi saat berbicara dalam sessi Open Forum Interconnectedness pada hari terakhir Harmony Camp, Kamis (27/2/2025). Bergabung juga sebagai narasumber, Direktur MHM kantor cabang Indonesia Dr. Muchlis M Hanafi, MA dan Koordinator GreenFaith Indonesia yang juga aktivis lingkungan dari Muhammadiyah Hening Parlan.
MHM kantor cabang Indonesia menggelar Harmony Camp yang diikuti 40 pemuda lintas agama. Mereka diajak berdiskusi di Eco Learning Camp, Bandung, selama empat hari, 24 – 27 Februari 2025, membahas penguatan persaudaraan manusia, aksi iklim dan pelestarian lingkungan, serta pemanfaatan Artificial Intteligence (AI).
Menurut TGB, tiga tatanan dalam membangun peradaban itu digaungkan oleh Grand Syaikh dan Puas Fransiskus dan tertuang dalam Dokumen Persaudaraan Manusia. Hal penting pertama dalam membangun tatanan, kata TGB, adalah pendidikan. “Ini kata kunci, karena itu lembaga pendidikan sangat penting untuk membangun karakter. Pendidikan menjadi tempat untuk membangun budaya intelektual, budaya sosial, bermasyaraat dan berbangsa,” sebut TGB.
“Setelah kembali dari Harmony Camp, temen-temen bisa ikut mendiseminasikan dan mentradisikan hal baik di lembaga masing-masing. Berusaha dengan teman lain untuk menjadikan lembaga pendidikan tempat belajar dan menata masa depan,” sambungnya.
Kedua, dialog. Pengalaman mengikuti Harmony Camp bisa menjadi bekal pentinya sikap keterbukaan. Dialog juga mensyaratkan adanya sikap toleransi, yaitu kemauan untuk menghormati yang berbeda.
“Kita punya sesuatu, teman mempunyai sesuatu yang berbeda, kita sama-sama saling menghormati dan mengapresaisi. Ada sikap keterbukaan,” paparnya.
Ketiga, tindakan kolektif. Menurut TGB, membangun tatanan peradaban tidak cukup hanya dengan pendidikan yang baik dan dialog. Lebih dari itu, diperlukan tindakan kolektif atau kolaboratif.
“Misalnya, isu lingkungan tidak bisa selesai hanya dengan satu dua orang yang mau bekerja, tapi semua harus bergandengan tangan. Termasuk bagian dari tindakan kolaboratif itu bukan hanya orangnya tapi juga ilmunya. Misalnya ahli ilmu sosial dan fisika berkolaborasi,” ujar TGB Zainul Majdi.
Jika ini dilaksanakan secara kolaboratif, itulah yang akan menghasilkan perubahan yang signifikan. Saya yakin teman-teman di HC akan bisa melaksanakan.
Urgensi AI
TGB juga menggaris bawahi pentingnya pemanfaatan AI. Menurutnya, Ai menjadi bagian yang sangat penting bagi kehidupan manusia di masa depan. Bahkan, menurutnya, ahli ilmu pengetahuan dan para futurologe, sepakat bahwa AI will play increase role in the future, akan terus berperan lebih besar ke depan.
“AI bukan berarti menjadikan kita tidak berpikir. Kita tetap harus berpikir bahkan harus lebih kreatif. Ketika kecerdasan buatan menghidangkan kepada kita data-datanya, itu bisa menjadi bahan edukasi publik,” ujarnya.
“AI termasuk makhluk yang diciptakan melalui akal fikiran dan kreasi manusia. Kita harus menerimanya sebagaimana menerima makhluk lainnya. Kita tidak bisa dan tidak boleh menolak. Posisi kita terhadap AI, apresiastif. Kita tidak melawan atau kontra, tapi memanfaatkannya untuk menyuburkan kehidupan, membangun peradaban yang baik,” sambungnya.
Dijelaskan TGB bahwa subjek dan objek agama adalah manusia. Sementara pekerjaan manusia itulah predikat. Karena itu, semaju-majunya AI, dia tidak bisa menggantikan hubungan spiritual antara manusia dan Tuhan. Di mana posisi AI, dia mematangkan subjek sehingga bisa menjadi insan beragama lebih baik. Dengan AI, kerja manusia lebih tertata.
“AI itu instrumen pendukung. Tidak bisa menggantikan spiritualitas manusia. Posisi agama tidak tergantikan. Apa makna kehadiran anda di dunia, untuk apa diciptakan, ke mana akan kembali, semua itu adalah pertanyaan beyond AI,” ucap TGB.
“Ketika teknologi semakin maju, seringkali juga menciptakan jiwa yang semakin gersang. Di situ agama hadir untuk memberikan guidance. AI bisa menfeeding kita dengan hal yang akan memperkuat spiritualitas kita. Kita punya tanggung jawab untuk membangun peradaban yang baik,” tandasnya.