Ketua MHM Bertemu Tokoh Media Arab, Bahas Peran Media Atasi Tantangan Kontemporer
.
Grand Syekh Al Azhar yang juga Ketua Majelis Hukama Muslimin (MHM), Imam Akbar Prof. Dr. Ahmed Al-Tayeb, mengadakan dialog terbuka dengan delegasi profesional media Arab terkemuka di sela-sela partisipasinya dalam KTT Media Arab. KTT ini berlangsung di Dubai selama tiga hari, 25–27 Mei 2025.
Melalui siaran pers MHM, Kamis (29/5/2027), disebutkan bahwa Grand Syekh Al Azhar dalam pertemuan tersebut menggarisbawahi peran penting media dalam meningkatkan kesadaran akan tantangan terkini, membentuk opini publik tentang berbagai isu yang dihadapi umat muslim, menumbuhkan jati diri nasional, menegakkan nilai-nilai etika dan moral, serta menanamkan kebanggaan terhadap akar budaya di kalangan pemuda, terutama di tengah berbagai tantangan saat ini, termasuk maraknya ujaran kebencian, ekstremisme, dan Islamofobia. Imam Akbar juga menekankan perlunya strategi media Arab terpadu yang secara aktif membela kepentingan umat dan melindungi generasi muda dari disorientasi ideologis, khususnya karena platform digital tertentu berupaya mengasingkan mereka dari realitas umat dan masyarakat mereka.
Grand Syekh menegaskan bahwa Al-Azhar telah lama memperjuangkan budaya damai, yang merupakan tema utama yang tertanam dalam kurikulumnya dari tingkat dasar hingga universitas. “Semua agama,” katanya, “diwahyukan untuk membawa kebahagiaan bagi umat manusia, melestarikan kehidupan, dan menyebarkan perdamaian, bukan untuk memicu perang atau menyulut kebencian.” Ia menunjuk pada inisiatif-inisiatif pembangunan perdamaian Al-Azhar, termasuk pendirian “Rumah Keluarga Mesir” bekerja sama dengan gereja-gereja Mesir. Proyek ini telah memperkuat kohesi sosial dan meredam ketegangan sektarian. “Ketika orang-orang Mesir melihat para pendeta berdiri di samping para imam,” katanya, “banyak benih-benih perpecahan lenyap begitu saja.”
Grand Syekh juga mencatat bahwa Al-Azhar menyadari sejak awal perlunya membina hubungan intra-Islam yang sejati melalui dialog yang jujur, rekonsiliasi, dan pengejaran nilai-nilai bersama di antara berbagai mazhab intelektual dalam Umat. Untuk tujuan ini, Al-Azhar dan MHM menyelenggarakan konferensi “Dialog Intra-Islam” di Kerajaan Bahrain, yang berpuncak pada penandatanganan “Seruan Ahlul Kiblat”—sebuah dokumen pemersatu prinsip-prinsip yang mempromosikan dialog dan pemahaman di antara berbagai mazhab pemikiran Islam.
Imam Akbar lalu menyoroti upaya Al-Azhar dan MHM dalam mempromosikan perdamaian global. “Kami membuka jalur kerja sama dengan Vatikan,” katanya, “dan saya menandatangani Dokumen Persaudaraan Manusia dengan mendiang sahabat saya, Paus Fransiskus. Kami juga menjalin dialog dengan berbagai gereja—termasuk Gereja-Gereja Timur, Dewan Gereja Dunia, dan Gereja Canterbury di Inggris.”
Menanggapi pertanyaan tentang hak-hak minoritas, Grand Syekh menyatakan penolakan tegasnya terhadap istilah “minoritas,” dengan alasan bahwa istilah itu pada dasarnya mengarah pada marginalisasi dan klasifikasi warga negara ke dalam golongan yang lebih tinggi dan lebih rendah. Sebaliknya, ia menganjurkan prinsip “kewarganegaraan penuh,” di mana semua individu menikmati hak dan tanggung jawab yang sama. Al-Azhar telah menyelenggarakan banyak konferensi dan menerbitkan dokumen yang menegaskan konsep ini. Ia meminta para profesional media untuk membantu mempromosikan nilai-nilai ini, dengan menekankan bahwa negara harus dibangun di atas fondasi kewarganegaraan yang setara, bebas dari diskriminasi atau kategorisasi.
Mengenai instrumentalisasi agama sebagai dalih untuk konflik dan perang, Ketua MHM menyatakan: “Kita harus membedakan antara ajaran agama, yang menyerukan perdamaian dan koeksistensi, dan interpretasi sesat yang digunakan oleh beberapa orang untuk membenarkan pembunuhan atas nama agama, yang sama sekali tidak dilakukan oleh agama. Semua nabi adalah saudara, dan agama Tuhan adalah satu dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad (saw).”
Ia menambahkan, “Kekerasan tidak akan pernah bisa dibenarkan atas nama agama. Apa yang kita saksikan adalah upaya oleh beberapa orang untuk membajak agama dan mengeksploitasinya untuk tujuan politik, dan ini sama sekali tidak dapat diterima.” Grand Syekh Al Azhar lebih lanjut mencatat bahwa upaya entitas Zionis untuk menyamakan “Zionisme” sebagai ideologi yang pada dasarnya jahat dengan “Yudaisme” sebagai agama Ilahi telah menjadi semakin transparan dan diakui.
Menanggapi pertanyaan tentang seruan yang semakin meningkat di beberapa masyarakat untuk menormalisasi “homoseksualitas” dan bentuk penyimpangan sosial lainnya, Imam Akbar berkomentar: “Seruan seperti itu adalah bukti kegilaan dan kekacauan yang menimpa peradaban ini, yang telah melampaui semua batasan moralitas dan ajaran agama. Ia terus-menerus berusaha meminggirkan agama dan menghapus perannya dalam kehidupan masyarakat, mengidolakan kebebasan individu dan mengejar pemuasan keinginan material yang tak terkendali.”
Ia menegaskan bahwa ajaran agama, bukan kecerdasan manusia yang terus berubah, harus menjadi dasar nilai-nilai moral. "Agama," katanya, "adalah yang mengikat moralitas. Kita tidak boleh mendelegasikan otoritas moral hanya kepada pikiran manusia." Mengenai pesan yang ingin disampaikannya kepada kaum muda, Imam Akbar mendesak kaum muda Arab dan muslim untuk mempersenjatai diri dengan pengetahuan dan pendidikan. Ia berkata, "Bacalah terlebih dahulu, sebelum berbicara—terutama jika menyangkut Islam, identitas Arab, dan peradaban Timur kita."