Kini dan Masa Depan Dialog Antar-Islam Dibahas dalam Seminar Paviliun MHM pada Pameran Buku Internasional Baghdad
Seminar pada Paviliun MHM di Pameran Buku Internasional Baghdad
Paviliun Majelis Hukama Muslimin (MHM) pada Pameran Buku Internasional Baghdad mengakhiri program budayanya, yang berlangsung sepanjang acara, dengan seminar berjudul "Tindak Lanjut dan Gagasan tentang Dialog di Kalangan Umat Saat Ini dan Masa Depan", Minggu (22/9/2024). Seminar ini menghadirkan narasumber, Sheikh Jawad Al-Khalisi, seorang tokoh agama terkemuka di Irak, dan Dr. Samir Boudinar, Direktur Pusat Penelitian Perdamaian Al-Hokama.
Diskusi difokuskan pada pentingnya dialog antar-Islam dalam membangun kembali kepercayaan di kalangan umat, dan persyaratan utama untuk membangun landasan yang kokoh bagi dialog ini. Seminar ini menekankan rasa saling menghormati dan pemahaman mendalam tentang nilai-nilai bersama di berbagai mazhab intelektual dan sekte Islam, sebagai langkah penting dalam mengatasi tantangan signifikan yang dihadapi masa depan umat.
Di awal seminar, Dr. Samir Boudinar menyatakan bahwa dialog Islam merupakan kewajiban yang terabaikan dan kebutuhan vital bagi umat Islam saat ini, sebagai tanggapan atas iman mereka dan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang mereka hadapi. Ia menyoroti bahwa paviliun Majelis Hukama Muslimini, melalui serangkaian seminar dan ceramah budaya di Pameran Buku Internasional Baghdad, telah berupaya memetakan jalan bagi dialog antar-Islam, khususnya setelah seruan bersejarah yang disampaikan oleh Grand Syekh Al Azhar yang juga Ketua MHM, Imam Akbar Prof. Dr. Ahmed Al-Tayeb, di Bahrain satu setengah tahun lalu, yang menyerukan dialog antar-Islam di antara berbagai komponen Umat.
Dr. Samir Boudinar, Direktur Pusat Penelitian Perdamaian Al-Hokama, menekankan bahwa tidak ada pertanyaan tentang legitimasi, relevansi, dan pentingnya dialog Islam dalam mengatasi tantangan yang dihadapi umat Islam saat ini. Ia menekankan perlunya kerangka kerja yang jelas untuk dialog ini dan untuk membangun kemajuan yang telah dicapai selama beberapa dekade. Para pemimpin intelektual umat telah lama mengakui nilai dialog, memulai berbagai upaya di bawah tema rekonsiliasi dan komunikasi. Namun, proses ini kini sangat membutuhkan pengalaman masa lalu, penyempurnaan mekanisme, dan penilaian ulang tujuan untuk memastikan bahwa dialog dalam Umat Islam produktif dan berhasil mencapai hasil yang diharapkan.
Sheikh Jawad Al-Khalisi menyuarakan sentimen ini, menggarisbawahi pentingnya menggerakkan dialog antar-Islam dari teori ke tindakan praktis. Ia mencatat bahwa Umat Islam saat ini berada dalam momen utama untuk berdialog di antara para anggotanya, karena kesadaran mendalam akan misinya dan komitmennya terhadap tanggung jawab yang telah Allah berikan kepadanya. Sepanjang sejarah Islam, Umat Islam telah mencari cara untuk memastikan persatuan dan kohesinya. Dengan demikian, seruan Grand Syekh Al-Azhar untuk memperkuat dialog antar-Islam datang pada saat yang krusial, yang membutuhkan upaya terpadu untuk menumbuhkan pemahaman yang lebih besar dan rasa saling menghormati.
Otoritas agama di Irak mencatat bahwa dialog antar-Islam tidak pernah benar-benar berhenti sepanjang sejarah. Dialog ini selalu hidup dalam hati nurani Umat Islam melalui contoh-contoh luar biasa dan tercermin dalam upaya para ulama dan pembaharu dari berbagai tradisi intelektual, yang memperkaya Umat Islam dengan pemikiran mereka. Ia menekankan bahwa dialog di antara para pemimpin intelektual dan agama di dunia Muslim tetap menjadi cara yang paling efektif untuk menjaga persatuan dan stabilitas. Saat ini, dialog bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan mendesak untuk memastikan keberlanjutan dan kemajuan Umat, yang bertindak sebagai perlindungan sejati terhadap ancaman eksternal.
Untuk pertama kalinya, MHM memamerkan paviliun khusus di Pameran Buku Internasional Baghdad. Prakarsa ini sejalan dengan misinya untuk mempromosikan perdamaian, memperkuat nilai-nilai dialog dan toleransi, serta membangun jembatan koeksistensi di antara orang-orang dengan latar belakang dan keyakinan yang beragam. Paviliun Dewan (H2), yang terletak di Aula Baghdad, menampilkan lebih dari 220 publikasi dalam lima bahasa, termasuk 24 rilis baru yang membahas topik-topik intelektual dan budaya utama.
Paviliun ini juga menyelenggarakan serangkaian seminar dan ceramah terkemuka, yang menampilkan para pemikir, cendekiawan, dan akademisi terkemuka, yang bertujuan untuk mendorong dialog dan pemahaman di antara berbagai sekte Islam, sekaligus mempromosikan kerja sama dan persatuan di seluruh umat.