MHM Berpartisipasi dalam Acara Global di Roma, Kenang Mendiang Paus Fransiskus
.
Majelis Hukama Muslimim (MHM) berpartisipasi dalam acara global yang diadakan di Roma untuk mengenang mendiang Paus Fransiskus, mantan Pemimpin Gereja Katolik. Pertemuan tersebut mempertemukan beberapa pemimpin agama dan diplomatik serta perwakilan dari organisasi internasional dan Vatikan.
Dalam pidato, Selasa (28/10/2025), Sekjen MHM Konselor Mohamed Abdelsalam menyampaikan rasa terima kasihnya yang mendalam kepada mendiang Paus Fransiskus. Sekjen MHM menggambarkan Puas Fransiskus sebagai seorang pemimpin spiritual luar biasa yang mengubah arah sejarah modern. Bersama Grand Syekh Al Azhar yang juga Ketua MHM, Imam Akbar Prof. Dr. Ahmed Al-Tayeb, Paus Fransiskus turut memulihkan pancaran hati nurani manusia di era ketika nilai-nilai moral merosot dan konflik merajalela.
Konselor Abdelsalam memuji Paus Fransiskus sebagai simbol langka keberanian moral dan suara yang tulus bagi rakyat jelata—seorang pembela sejati martabat manusia tanpa memandang agama, ras, atau warna kulit. Sekjen MHM menegaskan bahwa Paus Fransiskus akan selamanya menjadi teladan kerendahan hati, pemimpin yang dekat dengan rakyat, dan pembela setia belas kasih, keadilan, dan martabat manusia.
Berbicara tentang hubungan pribadinya dengan mendiang Paus, Konselor Abdelsalam mengenang Paus Fransiskus sebagai seorang bapa spiritual dan suara kebijaksanaan yang tenang di tengah hiruk-pikuk perang dan konflik. Sekjen MHM menceritakan pengalaman menyaksikan pertemuan bersejarah antara Paus Fransiskus dan Grand Syekh Al-Azhar di Vatikan pada 2015—pertemuan yang melahirkan gagasan Dokumen Persaudaraan Manusia, yang kemudian ditandatangani di Abu Dhabi pada 2019.
Ia melanjutkan dengan mencatat bahwa Paus Fransiskus, Grand Syekh Al Azhar, dan Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan, Presiden Uni Emirat Arab, meyakini tugas mereka tidak berakhir dengan penandatanganan dokumen bersejarah ini. Dokumen ini dimulai dengan komitmen bersama untuk bermitra dan melayani kemanusiaan, tanpa memandang agama atau kebangsaan. Saat ini, ujarnya, dokumen tersebut menjadi sumber inspirasi bagi dunia. Tanggal penandatanganannya kini diperingati sebagai Hari Persaudaraan Manusia Internasional, dan berbagai inisiatif telah muncul darinya—yang terpenting di antaranya adalah Penghargaan Zayed untuk Persaudaraan Manusia, yang edisi perdananya menghormati Imam Besar dan Paus Fransiskus atas upaya bersama mereka dalam memajukan perdamaian global.
Sebagai penutup, Konselor Abdelsalam menegaskan kembali bahwa MHM—yang bekerja sama dengan Al-Azhar, Gereja Katolik, dan mitra lainnya—akan melanjutkan perjalanan persaudaraan manusia yang telah dimulai oleh Imam Akbar dan Paus Fransiskus. Ia menekankan komitmen MHM untuk menerjemahkan prinsip-prinsip dokumen tersebut menjadi kenyataan nyata melalui pendidikan, media, dan kebijakan publik.
"Pesan kami satu, membangun jembatan, bukan tembok; menjaga martabat manusia di atas segalanya—mengambil inspirasi dari firman Allah SWT dalam Al-Qur'an: 'Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal' (Al-Qur'an, 49:13), dan dari sabda Yesus Kristus dalam Injil: 'Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah (Matius 5:9)'," ujarnya.