MHM Berpartisipasi dalam Forum Internasional Astana
.
Majelis Hukama Muslimin (MHM) berpartisipasi dalam Forum Internasional Astana (AIF), yang diselenggarakan di ibu kota Kazakhstan, Astana, 29 – 30 Mei 2025. Acara ini mengangkat tema “Menghubungkan Pikiran: Membentuk Masa Depan.”
Forum ini mempertemukan berbagai pemimpin dan pembuat keputusan global. Tujuannya, memajukan dialog internasional dan kerja sama multilateral guna mengatasi tantangan global yang kompleks yang memerlukan respons yang terkoordinasi dan komprehensif.
Selama sesi panel berjudul “Tantangan Inovasi: Membuat Aksi Iklim Berhasil untuk Semua,” Majelis Hukama Muslimin melalui siaran pers, Jumat (30/5/2025) menekankan bahwa Dokumen Persaudaraan Manusia—yang ditandatangani di Abu Dhabi pada 2019 oleh Grand Syekh Al Azhar yang juga Ketua MHM, Imam Akbar Dr. Ahmed Al-Tayeb, dan mendiang Paus Fransiskus, mantan pemimpin Gereja Katolik—menganjurkan nilai-nilai perdamaian, keadilan, solidaritas, dan rasa hormat terhadap lingkungan. Dokumen tersebut didasarkan pada prinsip-prinsip etika dan spiritual yang dianut bersama oleh agama-agama di dunia.
MHM menambahkan bahwa semua agama menyerukan penghormatan terhadap alam, pencegahan kerusakan di Bumi, dan pengambilan tanggung jawab terhadap ciptaan. Ini bukan hanya prinsip-prinsip spiritual tetapi juga landasan moral yang dapat berfungsi sebagai titik acuan global untuk mendukung aksi iklim. Disebutkan bahwa peran para pemimpin agama dalam hal ini melampaui bimbingan moral untuk membangkitkan hati nurani manusia, memperkuat tanggung jawab kolektif, dan memobilisasi masyarakat untuk mengadopsi gaya hidup yang lebih berkelanjutan.
MHM telah berupaya untuk memajukan peran para pemimpin agama dalam mengatasi krisis iklim melalui sejumlah inisiatif perintis. Ini termasuk menyelenggarakan KTT Global Pemimpin Agama untuk Iklim di Abu Dhabi, yang menghasilkan peluncuran "Seruan Hati Nurani: Pernyataan Bersama Abu Dhabi untuk Iklim"—yang ditandatangani oleh 30 pemimpin agama terkemuka dari seluruh dunia, termasuk Imam Akbar Al-Tayeb dan Paus Fransiskus.
MHM juga menyelenggarakan Paviliun Agama pertama di COP28 di Dubai—yang menandai tonggak bersejarah dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB. Keberhasilannya yang gemilang telah menghasilkan penyelenggaraan edisi kedua di COP29 di Baku, Azerbaijan, yang berfungsi sebagai platform global untuk dialog antaragama dan untuk memperkuat suara para pemimpin agama dalam mengatasi tantangan iklim.
MHM mencatat bahwa para pemimpin agama dan masyarakat lokal di Kazakhstan dapat memainkan peran penting dalam mempromosikan keberlanjutan dan ketahanan dengan mengaktifkan wacana etika dan agama untuk meningkatkan kesadaran lingkungan, menghubungkan perlindungan lingkungan dengan iman dan tanggung jawab moral di hadapan Tuhan dan masyarakat. Hal ini juga dapat dicapai dengan mengintegrasikan konsep keberlanjutan ke dalam kegiatan masyarakat—baik di sekolah, rumah ibadah, atau inisiatif lokal—sehingga menjadikan aksi iklim sebagai bagian dari budaya sehari-hari. Memberikan contoh yang baik sama pentingnya; ketika orang melihat para pemimpin agama dan tokoh masyarakat berkomitmen pada gaya hidup berkelanjutan, hal itu menginspirasi orang lain untuk mengikuti jejak mereka. Selain itu, membangun kemitraan dengan pemuda dan masyarakat sipil sangat penting, karena perubahan perilaku memerlukan komunikasi antargenerasi dan strategi kesadaran yang efektif, terutama di era digital.
MHM mengakhiri sambutannya dengan menegaskan bahwa keberlanjutan dimulai dengan mengakui nilai kemanusiaan dan alam. Seperti yang diajarkan agama sejak lama, penyembuhan Bumi dimulai dengan reformasi diri, pengembangan hati nurani, dan kerja sama dalam mengejar kebaikan bersama.