MHM Berpartisipasi dalam Konferensi UNCTAD tentang “AI dan Pembangunan Berkelanjutan” di Jenewa
.
Majelis Hukama Muslimin (MHM) berpartisipasi dalam sesi ke-16 Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD16). Konferensi ini diselenggarakan di Jenewa, 20 - 23 Oktober 2025. Acara ini mengusung tema “Memanfaatkan Kecerdasan Buatan untuk Pembangunan yang Inklusif dan Berkelanjutan.” Konferensi ini dihadiri oleh para ahli, pejabat, dan perwakilan organisasi internasional di seluruh dunia.
Dalam pidato pada sesi bertajuk “Memanfaatkan Kecerdasan Buatan untuk Pembangunan Inklusif dan Berkelanjutan,” Kamis (23/10/2025), Sekjen MHM Konselor Mohamed Abdelsalam menekankan bahwa kecerdasan buatan (AI) bukan sekadar masalah ilmiah atau ekonomi. Lebih dari itu, AI merupakan isu etika dan kemanusiaan yang mendalam yang menyentuh esensi keberadaan dan martabat manusia. Konselor Abdelsalam menggarisbawahi pentingnya teknologi untuk melayani umat manusia tanpa mengorbankan kesejahteraannya.
Konselor Abdelsalam mencatat bahwa pengelolaan transformasi digital menuntut kolaborasi sejati antara ilmuwan, filsuf, pemimpin agama, dan pembuat kebijakan untuk memastikan teknologi memaksimalkan kebaikan manusia, alih-alih melanggengkan ketimpangan dan dominasi antarbangsa. Sekjen MHM menguraikan tiga strategi utama bagi negara-negara berkembang untuk memanfaatkan peluang AI: berinvestasi dalam sumber daya manusia, mendorong ekosistem inovasi yang adil dan inklusif, dan membangun kemitraan internasional yang seimbang yang berakar pada pertukaran pengetahuan dan keahlian untuk mendorong pembangunan bersama dalam kerangka tanggung jawab kemanusiaan bersama. Konselor Abdelsalam juga memuji Uni Emirat Arab atas dukungannya kepada negara-negara berkembang melalui pembangunan infrastruktur dan pelatihan talenta muda untuk mengimbangi kemajuan pesat di bidang AI, sehingga berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan global.
Majelis Hukama Muslimin menyerukan penerapan tata kelola etika yang komprehensif untuk AI yang menyeimbangkan inovasi dengan perlindungan manusia melalui prinsip-prinsip inovasi yang bertanggung jawab, keadilan digital, transparansi, dan akuntabilitas. Konselor Abdelsalam menyatakan, "Secanggih apa pun teknologi, ia tidak memiliki hati nurani dan tidak memahami belas kasih." Ia menjelaskan bahwa "AI bukanlah akhir dari perjalanan umat manusia, melainkan fase baru dalam pencariannya untuk mengeksplorasi potensi dan kemampuannya," seraya menambahkan bahwa "kecerdasan saja tidak cukup untuk membangun dunia yang lebih baik tanpa dibimbing oleh kebijaksanaan dan kemanusiaan."
Konselor Abdelsalam menyoroti inisiatif Majelis Hukama Muslimin, "Dokumen Bersama tentang Etika Kecerdasan Buatan," yang dikembangkan bekerja sama dengan Al-Azhar dan Takhta Suci Vatikan, mencerminkan tanggung jawab etis dan spiritual untuk mengatasi tantangan teknologi utama, memastikan kemanusiaan tetap menjadi inti transformasi digital sekaligus menanamkan prinsip-prinsip martabat, keadilan, dan tanggung jawab dalam pengembangan teknologi modern.
Ia menyimpulkan dengan menegaskan bahwa "kemajuan tanpa etika adalah keuntungan tanpa tujuan." Ia mencatat bahwa para pemimpin agama, yang dipimpin oleh Yang Mulia Dr. Ahmed Al-Tayeb, Imam Besar Al-Azhar dan Ketua Dewan Tetua Muslim, secara konsisten menegaskan bahwa keseimbangan etika bukanlah hambatan bagi pembangunan, melainkan pilar fundamental. Ia juga menambahkan, "Ketika inovasi dipandu oleh semangat persaudaraan manusia dan kebijaksanaan etika, AI tidak hanya akan memajukan perekonomian kita tetapi juga mengangkat martabat manusia."