MHM Ikuti Konferensi Internasional “Maturidisme – Doktrin Toleransi, Moderasi, dan Pencerahan” di Samarkand
.
Konselor Mohamed Abdelsalam, Sekretaris Jenderal Majelis Hukama Muslimin (MHM), mengambil bagian dalam konferensi internasional bertajuk “Maturidisme – Doktrin Toleransi, Moderasi, dan Pencerahan” di Samarkand. Seminar ini diadakan di kota Samarkand, Uzbekistan, 29–30 April 2025.
Acara tersebut mempertemukan sekelompok ulama dan pemimpin agama terkemuka dari seluruh dunia. Acara ini bertujuan untuk mengeksplorasi warisan intelektual Imam Al-Maturidi dan para pengikutnya, sekaligus menyoroti relevansi prinsip-prinsip Maturidi saat ini.
Berbicara selama sesi pembukaan, Rabu (30/4/2025), Konselor Abdelsalam menekankan bahwa kepatuhan terhadap Mazhab Ahl al-Sunnah wal-Jama‘ah—yang mewakili arus utama Umat Muslim, termasuk Asy'ariyah, Maturidiyan, serta ulama hadis dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi‘i, dan Hanbali, bersama dengan para imam dan ulama—adalah kunci untuk menghadapi retorika ekstremis dan takfiri.
Mazhab ini tidak mengucilkan siapa pun di antara Ahlul Kiblat, dan tidak pula mengusir kaum Muslim dari Islam atas dasar dosa, kesalahan, atau keraguan. Malah, mazhab ini menegakkan prinsip-prinsip moderasi, keseimbangan, dan koeksistensi—baik di dalam komunitas Muslim maupun dengan seluruh umat manusia.
Sekretaris Jenderal MHM mencatat bahwa di dunia yang menghadapi tantangan yang semakin besar, penting untuk mengakui sifat-sifat mulia dari tradisi Maturidi dan warisan yang lebih luas dari Ahl al-Sunnah wal-Jama'ah. Mazhab-mazhab yang bertahan lama ini menang bukan karena mereka lebih menyukai akal daripada wahyu, atau sebaliknya, tetapi karena mereka menegakkan jalan yang seimbang dari para Sahabat Nabi—yang berakar pada keyakinan yang kuat, kejelasan intelektual, dan keselarasan antara kitab suci dan refleksi yang beralasan. Warisan yang kaya ini harus terus ditinjau kembali dengan wawasan, dan dipelajari secara komprehensif menggunakan pengetahuan yang diwariskan dan metodologi modern untuk melayani umat Islam—dan semua orang.
Konselor Abdelsalam juga menyoroti status terhormat Imam Al-Maturidi dalam sejarah teologi Islam (‘ilm al-tawḥīd) dan teologi skolastik (‘ilm al-kalām), tidak hanya di tempat kelahiran dan tanah airnya tetapi di seluruh wilayah Transoxiana dan dunia Muslim yang lebih luas. Ia mengutip Grand Syekh Al Azhar, Imam Akbar Prof. Dr. Ahmed Al-Tayeb, yang menggambarkan Imam Al-Maturidi sebagai “Imam al-Huda”, sebuah gelar yang diakui oleh para ulama masa lalu dan sekarang.
Sekjen MHM lebih lanjut menekankan bahwa pusat-pusat Al-Azhar telah lama merangkul sarjana dari setiap sudut dunia Muslim, melayaninya dengan tulus, melestarikan ilmu-ilmunya, dan menghormati memori para imamnya yang saleh. Dalam semangat ini, MHM telah menerbitkan beberapa karya tentang Mazhab Ahl al-Sunnah wal-Jama‘ah, yang mencakup berbagai tradisi dan kontribusinya terhadap teologi dan pemikiran Islam yang mendasar.
Sekretaris Jenderal MHM mengakhiri sambutannya dengan mengungkapkan rasa terima kasih kepada Republik Uzbekistan dan Presiden Shavkat Mirziyoyev, atas komitmen berkelanjutan mereka untuk menghidupkan kembali warisan para ulama. Ia menyampaikan harapannya bahwa konferensi ini akan menjadi langkah yang diberkahi untuk mengembalikan Umat Muslim ke tempat yang semestinya—sebagai bangsa yang adil dan seimbang, saksi atas kemanusiaan, dan pembawa kebaikan bagi dunia.