MHM Indonesia Sambut Baik Inisiatif Peluncuran Harmony in Action
.
Majelis Hukama Muslimin (MHM) kantor cabang Indonesia menyambut baik inisiatif peluncuran ‘Harmony in Action’. Insiatif ini diluncurkan oleh Wahid Foundation bekerja sama dengan Temasek Foundation.
Harmony in Action, sebuah inisiatif lintas negara yang bertujuan memperkuat kepemimpinan muda dalam membangun kohesi sosial dengan mendorong kelestarian lingkungan. Peluncuran ini berlangsung di Jakarta, Selasa (22/4/2025). MHM kantor cabang Indonesia menjadi salah satu lembaga yang diundang dalam peluncuran ini.
Acara ini dihadiri berbagai tokoh, Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid; Direktur Eksekutif dan Chief Executive Officer Temasek Foundation Ng Boon Heong; United Nations Resident Coordinator untuk Indonesia Ghita Sabharwal; perwakilan dari Kementerian dan Lembaga Negara; serta para pemimpin organisasi keagamaan dari NU, Muhammadiyah, Konferensi Waligereja Indonesia, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia. Lebih dari 120 pemimpin muda dari Indonesia dan Singapura berpartisipasi dalam forum ini. Mereka terpilih sebagai delegasi dalam program ini melalui proses berbasis komunitas, yang melibatkan kampanye media sosial dan rekomendasi dari mitra strategis. Hadir juga, berbagai perwakilan dari kedutaan besar asing, mitra pembangunan internasional, organisasi perempuan, organisasi pemuda, lembaga pemerintah, media, dan sektor swasta.
Dalam peluncuran ini, digelar diskusi panel tentang "Beyond Borders: Pemimpin Muda untuk Perdamaian, Keimanan, dan Masa Depan yang Lebih Hijau".
“MHM Indonesia menyambut baik peluncuran Harmony in Action. Gerakan ini sejalan dengan visi dan misi MHM yang dipimpin oleh Grand Syekh Al Azhar Ahmed Al Tayeb,” terang Direktur MHM kantor cabang Indonesia, Muchlis M Hanafi.
“Selama ini, MHM terus berupaya mempromosikan perdamaian dan menumbuhkan nilai-nilai dialog, toleransi, dan koeksistensi manusia, termasuk juga aksi iklim dalam pelestarian lingkungan,” sambungnya.
Muchlis M Hanafi menegaskan bahwa pihaknya siap menjalin kerja sama dalam Harmony in Action, baik dalam penguatan isu toleransi dan koeksistensi, ekologi, maupun pemberdayaan para pemuda.

Kolaborasi Lintas Komunitas
Sebelumnya, Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid, dalam sambutannya menekankan pentingnya penguatan peran generasi muda dalam menghadapi krisis multidimensi yang melanda Indonesia dan kawasan regional, mulai dari ketegangan sektarian, diskriminasi berdasarkan agama dan kepercayaan, hingga ancaman perubahan iklim.
"Kami percaya bahwa generasi muda adalah aktor kunci dalam mendorong transformasi sosial yang inklusif dan berkelanjutan. Melalui forum ini, kami membangun ruang bersama bagi mereka untuk tumbuh sebagai agen perdamaian dan pelestari bumi, baik di tingkat lokal maupun global," kata Yenny.
Data Wahid Foundation (2023) menunjukkan bahwa ketegangan sektarian, ujaran kebencian, dan diskriminasi terhadap kelompok minoritas berdasarkan agama dan kepercayaan masih tinggi. Krisis ini semakin diperparah dengan kerusakan lingkungan dan kesenjangan sosial yang menimpa kelompok-kelompok rentan, seperti perempuan, masyarakat adat, dan kelompok rentan.
Sementara itu, menurut data Badan Pusat Statistik (2023), 28 persen penduduk Indonesia adalah anak muda berusia 15-30 tahun. Potensi mereka sebagai agen perubahan sangat besar-terutama dalam menciptakan gerakan kolektif yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.
Menurutnya, program Harmony in Action memperluas dampak dari inisiatif Wahid Foundation seperti Gus Dur School for Peace (GDSP) dan Desa Damai yang telah diimplementasikan sejak tahun 2017. Berbasis komunitas, program-program ini telah menghasilkan para pemimpin muda yang secara aktif mempromosikan toleransi, keberagaman, dan resolusi konflik di berbagai daerah di Indonesia.
Kini, melalui kemitraan dengan Temasek Foundation, inisiatif ini diperluas ke tingkat internasional. Forum ini tidak hanya menjadi ruang belajar bersama, namun juga menjadi platform untuk kolaborasi lintas negara dan lintas komunitas-menyatukan pengalaman akar rumput dan pendekatan advokasi global