MHM Soroti Upaya Memajukan Dialog Intra-Islam di Seminar Pameran Buku Internasional Lahore
.
Paviliun Majelis Hukama Muslimin (MHM) di Pameran Buku Internasional Lahore menyelenggarakan seminar budaya keduanya, berjudul “Upaya Dewan Tetua Muslim untuk Memajukan Dialog Intra-Islam”, Kamis (6/2/2025). Acara tersebut menampilkan pembicara terkemuka, termasuk ulama terhormat Lal Hussain Al-Tuwaheedi, Koordinator Institut Syiah di Pakistan, dan Profesor Dr. Muhammad Abdullah, Direktur Pusat Islam Sheikh Zayed di Universitas Punjab – Lahore.
Sesi tersebut dimoderatori oleh Dr. Arshad Al-Azhari, Direktur MHM kantor cabang Pakistan. Seminar dihadiri banyak pengunjung yang memadati stan pameran MHM.
Seminar ini membahas pentingnya persatuan Islam dalam menghadapi tantangan yang dihadapi dunia Muslim. Seminar menekankan perlunya mempromosikan pendidikan agama moderat di sekolah dan universitas untuk melindungi kaum muda agar tidak terjerumus ke dalam sektarianisme. Para pembicara menyerukan kepada pemerintah dan lembaga-lembaga Islam untuk mengadopsi program-program pendidikan yang memperkuat nilai-nilai persatuan, toleransi, dan hidup berdampingan. Mereka menekankan bahwa Al-Quran yang Mulia dan ajaran-ajaran Nabi Muhammad (saw) menyerukan persatuan dan solidaritas di antara umat Islam dan bahwa banyaknya kesamaan yang menyatukan mereka harus jauh lebih besar daripada sedikit perbedaan yang ada.
Dalam pidatonya, Lal Hussain Al-Tuwaheedi menekankan bahwa umat Islam mencapai persatuan dengan kembali kepada Al-Quran dan Sunnah Nabi. Ia menyoroti peran Al-Azhar sebagai lembaga terkemuka dalam mempromosikan perdamaian global dan membina dialog intra-Islam. Ia mencatat bahwa Al-Azhar adalah salah satu dari sedikit lembaga yang mengajarkan semua mazhab pemikiran Islam, sehingga memainkan peran penting dalam membina pemahaman dan dialog di antara umat Islam. Ia juga menunjuk pada peran penting media sosial dan mendesak kaum muda untuk menggunakannya untuk menyebarkan budaya perdamaian dan persaudaraan daripada berfokus pada perpecahan.
Dr. Muhammad Abdullah menyuarakan sentimen ini, menyerukan evaluasi ulang praktik sektarian yang memecah belah umat Islam dan sebaliknya berfokus pada kesamaan yang menyatukan bangsa Muslim. Ia merujuk pada visi ulama terkenal Muhammad Iqbal tentang persatuan umat Islam, di mana ia menyamakan Islam dengan pohon dengan satu batang dan banyak cabang atau sungai yang memunculkan aliran yang berbeda, yang menggambarkan bahwa keberagaman dalam perspektif tidak sama dengan perpecahan.
Seminar tersebut menyaksikan keterlibatan yang signifikan dari para peserta, yang berpartisipasi dalam diskusi mendalam tentang pentingnya dialog intra-Islam dan peran penting lembaga keagamaan dan pendidikan dalam membina nilai-nilai ini.
Seminar ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan MHM untuk mempromosikan dialog intra-Islam. MHM juga menyelenggarakan “Konferensi Dialog Intra-Islam: Satu Bangsa, Nasib Bersama”, yang dijadwalkan akan diselenggarakan di Bahrain, 18 - 19 Februari 2025. Konferensi ini merupakan perpanjangan dari inisiatif MHM untuk meningkatkan komunikasi di antara berbagai mazhab pemikiran Islam dan mengeksplorasi mekanisme untuk menyatukan upaya guna mengatasi tantangan bersama yang dihadapi dunia Muslim.
Paviliun MHM di Pameran Buku Internasional Lahore 2025 terus menarik banyak pengunjung untuk hari kedua berturut-turut. Paviliun ini telah menyambut banyak akademisi dan tokoh media terkemuka, yang memuji publikasi MHM yang berharga dan inisiatif perintis dalam mempromosikan dialog dan saling pengertian di antara berbagai mazhab pemikiran Islam. Mereka juga memuji peran utama MHM dalam menyebarkan budaya perdamaian dan hidup berdampingan di antara negara-negara.
Paviliun MHM akan terus menyambut pengunjung di Pameran Buku Internasional Lahore hingga tanggal 9 Februari di Expo Center Lahore, Aula 1, Stan 1-6. Paviliun ini memamerkan koleksi buku, publikasi intelektual, dan inisiatif luar biasa yang bertujuan untuk mempromosikan perdamaian dan hidup berdampingan, yang mencerminkan peran perintis MHM dalam menyatukan upaya Islam dan menumbuhkan pemahaman yang lebih baik di antara umat Islam dari berbagai latar belakang intelektual dan teologis.