November 2024, MHM Gelar KTT Global Pemimpin Agama untuk Iklim di Azerbeijan
MHM Gelar KTT Global Pemimpin Agama untuk Iklim di Azerbeijan
Presiden Republik Azerbaijan, Ilham Aliyev, mendukung langkah Dewan Muslim Kaukasus (CMB) bekerja sama dengan Majelis Hukama Muslimin (MHM), Presidensi COP29, dan Komite Negara Azerbaijan untuk menjalin sinergi dengan Organisasi Keagamaan dan Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), guna menyelenggarakan KTT Global Pemimpin Agama untuk Iklim di Baku, awal November 2024. KTT tersebut merupakan bagian dari persiapan Azerbaijan untuk menjadi tuan rumah COP29 dan akan mempertemukan lebih dari 300 perwakilan pemerintah, pejabat senior PBB, pemimpin organisasi internasional, pemimpin agama global terkemuka, cendekiawan, dan pakar lingkungan dari seluruh dunia.
KTT Global ini mengangkat tema “Agama-Agama Dunia untuk Planet yang Hijau”. Gelaran KTT bertujuan untuk menekankan peran utama yang dimainkan agama dalam upaya global untuk mengatasi perubahan iklim. KTT ini akan menyoroti sikap bersatu di antara para pemimpin agama global dan tradisional yang menentang perang dan kerusakan lingkungan serta mengadvokasi penyelesaian konflik secara damai. KTT tersebut juga akan berfungsi sebagai platform untuk dialog di antara para ahli, akademisi, pemimpin politik dan agama, serta perwakilan dari organisasi publik dan internasional. Diskusi akan difokuskan untuk membahas tantangan modern yang mendesak—terutama perang dan krisis lingkungan—untuk mendorong kerja sama internasional dalam mengatasi perubahan iklim dan untuk mengeluarkan seruan bersama untuk mencegah bencana lingkungan dan menegakkan perdamaian dunia. Visi kolektif ini menyerukan diakhirinya kekerasan, pengurangan senjata, dan perlindungan planet Bumi dari ancaman lingkungan.
Selama dua hari, pertemuan puncak tersebut akan membahas beberapa isu utama, termasuk perspektif agama tentang perubahan iklim, peran media sosial dan komunitas agama dalam melindungi lingkungan, dan membangun kepercayaan melalui dialog antaragama. Pertemuan puncak tersebut juga akan membahas dampak buruk terorisme, intoleransi agama dan ras, hasutan kebencian, dan perang terhadap lingkungan, komunitas yang damai, dan ekosistem alam.
Melalui siaran pers, Jumat (1/11/2024), Sekjen MHM, Hakim Mohamed Abdelsalam, mencatat bahwa pertemuan puncak yang dijadwalkan pada 5-6 November di Baku ini, merupakan bentuk komitmen MHM yang berkelanjutan untuk mempromosikan dialog antaragama dan budaya guna membangun dunia yang lebih saling pengertian, harmonis, dan berkelanjutan. Ia menyoroti peran penting yang dapat dimainkan oleh para pemimpin agama dalam mengatasi tantangan global, khususnya perubahan iklim, dan memuji kepemimpinan Azerbaijan, di bawah Presiden Ilham Aliyev, dalam memajukan dialog antaragama dan budaya. Ia menambahkan bahwa inisiatif Azerbaijan telah menumbuhkan masyarakat yang menghargai hidup berdampingan secara damai, toleransi, dan dialog bersama, yang menawarkan model yang menginspirasi untuk menumbuhkan pemahaman dan perdamaian.
“Azerbaijan telah mendeklarasikan 2024 sebagai ‘Tahun Solidaritas untuk Dunia yang Hijau,’ sebuah seruan yang sejalan dengan Seruan Hati Nurani: Pernyataan Bersama Abu Dhabi untuk Iklim, yang dikeluarkan tahun lalu sebagai hasil utama dari KTT Pemimpin Agama Global untuk Iklim yang diselenggarakan di Abu Dhabi. Solidaritas ini mendorong umat manusia untuk hidup selaras dengan alam dan bekerja sama untuk melindungi dunia kita dari perubahan iklim. Kami berharap KTT ini akan mengambil langkah maju dalam meningkatkan kesadaran global tentang isu-isu iklim,” sebut Konselor Abdelsalam.
Sementara itu, Yang Mulia Sheikhul-Islam Allahshukur Pashazade, Ketua Dewan Muslim Kaukasus dan pemimpin spiritual Muslim di Azerbaijan dan Kaukasus, menyatakan bahwa tantangan lingkungan yang dihadapi umat manusia saat ini merupakan salah satu ancaman paling mendesak dan berbahaya bagi kehidupan di Bumi. Ia menekankan bahwa krisis iklim dan dampak destruktifnya menuntut kolaborasi internasional yang lebih kuat yang juga dapat mengatasi perubahan iklim secara mendasar dan efektif. Hal ini, katanya, berhasil dicapai selama COP28, yang berfungsi sebagai platform efektif yang mempertemukan para pembuat kebijakan, pemimpin agama, ilmuwan, dan pakar lingkungan, yang menghabiskan waktu untuk menemukan solusi konkret atas berbagai tantangan iklim.
Sheikh-ul-Islam juga menyampaikan harapannya bahwa KTT Global Pemimpin Agama untuk Iklim di Azerbaijan akan membangun kesuksesan dari KTT sebelumnya yang diadakan di Abu Dhabi pada 2023. Ia juga menekankan peran penting yang dapat dimainkan oleh para pemimpin agama dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pelestarian lingkungan dan memuji MHM, di bawah kepemimpinan Grand Syekh Al Azhar, Imam Akbar Dr. Ahmed Al-Tayeb, karena menyatukan suara agama dan sains dalam misi untuk melindungi planet kita bersama.
Pada 2023, sebagai bagian dari misi meningkatkan peran para pemimpin agama dalam mengatasi tantangan global—terutama perubahan iklim—dan bersamaan dengan penyelenggaraan COP28 di UEA, MHM menyelenggarakan KTT Pemimpin Agama Global untuk Iklim pada 6-7 November. KTT tersebut diselenggarakan bekerja sama dengan Kementerian Toleransi dan Koeksistensi UEA, Presidensi COP28, dan Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP). KTT tersebut mempertemukan perwakilan dari 18 agama dan 30 denominasi dari seluruh dunia, bersama para cendekiawan, pakar lingkungan, dan anggota masyarakat sipil, termasuk pemuda, perempuan, dan masyarakat adat. Acara tersebut juga ditutup dengan Seruan Hati Nurani: Pernyataan Bersama Abu Dhabi untuk Iklim, yang mendesak masyarakat global untuk mengambil tindakan konkret guna mengatasi krisis iklim dan melindungi planet ini.