Perbedaan adalah Keniscayaan
Lukman Hakim Saifuddin (Menag 2014 – 2019)
Perbedaan adalah keniscayaan. Ia adalah sesuatu yang pasti, yang memang demikian lah adanya. Perbedaan adalah wujud keterbatasan manusia yang juga merupakan kehendak Allah Swt.
Adanya ragam keyakinan, raham paham keagamaan, dan juga ragam amalan keagamaan, sesungguhnya adalah wujud keterbatasan sudut pandang manusia, keterbatasan wawasan dan ilmu pengetahuannya, serta keragaman lingkungan strategis yang membentuk tradisi dan budaya yang melingkupinya dalam memahami ayat-ayat Allah
Keragaman dalam bentuk perbedaan sesungguhnya adalah anugerah dan rahmat Allah. Allah menciptakan dan menjadikan perbedaan-perbedaan itu agar kita dengan segala keterbatasan masing-masing, bisa saling mengenali, berinteraksi, berkomunikasi, mengisi, melengkapi, serta saling membangun kooperasi dan bersinergi.
Bila kita belum mampu menyikapi perbedaan sebagai wahana untuk bersinergi, maka maknai dan sikapilah perbedaan itu sebagai ujian. Ujian agar kita bisa naik kelas, naik kualitas kemanusiaan, serta naik harkat, derajat, dan martabat kemanusiaan kita. Ujian itu dalam bentuk perbedaan, agar sekeras, setajam, dan sebesar apapun perbedaan yang ada, jangan sampai kita mengingkari dan menyimpangi inti pokok dari ajaran Islam, yaitu nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, kemaslahatan dan berbagai nilai universal lainnya.
Ramadan adalah bulan melatih diri agar kita mampu menyikapi perbedaan dengan penuh kearifan. Ramadan melatih kita agar mampu menyikapi perbedaan sebagai anugerah dan rahmat Allah, serta mampu menyikapinya sebagai ujian bagi kemanusiaan kita.