Perempuan dan Generasi Penyebar Nilai Perdamaian Dibahas dalam Seminar MHM di Pameran Buku Internasional Abu Dhabi
.
Sebagai bagian dari program budaya dan intelektual di Pameran Buku Internasional Abu Dhabi ke-34, Senin (5/5/2025), paviliun Majelis Hukama Muslimin (MHM) menyelenggarakan seminar berjudul “Perempuan dan Pembentukan Generasi Penyebar Nilai-Nilai Hidup Berdampingan dan Perdamaian.”
Hadir sebagai narasumber, Syeikha Khulood Al Qassimi, Asisten Wakil Menteri di Kementerian Pendidikan di UEA dan Duta Besar Nabila Makram, Mantan Menteri Imigrasi dan Ekspatriat Mesir. Acara ini dihadiri oleh sekelompok intelektual terkemuka, peneliti, dan pengunjung pameran buku.
Membuka seminar, Syeikha Khulood Al Qassimi menekankan bahwa perempuan memainkan peran mendasar—bukan sekadar pelengkap—dalam masyarakat. Ia menggambarkan perempuan sebagai agen penting dalam menanamkan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur dan membina generasi yang mampu memimpin masa depan. Ia mencatat bahwa tantangan moral dan intelektual yang dihadapi masyarakat saat ini mengharuskan kita memandang toleransi dan penerimaan bukan hanya sebagai cita-cita, tetapi sebagai kebutuhan eksistensial.
Menyoroti peran penting ibu, Syeikha Khulood Al Qassimi menekankan bahwa dialog dimulai dari rumah, tempat perempuan bijak menumbuhkan empati, kasih sayang, dan keterbukaan pada anak-anak mereka. Perempuan, katanya, adalah lembaga dialog pertama—terutama melalui peran ibu dalam mengajarkan anak untuk mendengarkan secara aktif dan menghormati sudut pandang yang berbeda.
Syeikha Khulood Al Qassimi juga memuji pencapaian luar biasa perempuan Emirat di berbagai sektor, yang dimungkinkan oleh dukungan berkelanjutan dari para pemimpin bijaksana UEA—dari mendiang Syeikh Zayed bin Sultan Al Nahyan (Almarhum), hingga saat ini. Ia menyoroti bahwa perempuan saat ini mencakup separuh dari Dewan Nasional Federal, lebih dari dua pertiga dari tenaga kerja sektor publik, hampir 80% dari sektor perawatan kesehatan, dan sekitar 69% dari lulusan universitas.
Ia kemudian memuji kepemimpinan visioner Yang Mulia Syeikha Fatima binti Mubarak, “Ibu Bangsa,” yang inisiatif strategisnya telah memberdayakan perempuan melalui program komprehensif dalam pendidikan, pelatihan, dan pengembangan masyarakat.
Syeikha Khulood Al Qassimi lebih lanjut mencatat komitmen MHM untuk mengintegrasikan perempuan ke dalam inisiatif internasionalnya, dengan meyakini bahwa dialog berkelanjutan dimulai dalam keluarga—dengan perempuan sebagai intinya. Ia merujuk pada peluncuran program global MHM baru-baru ini yang mengirimkan tokoh perempuan untuk mempromosikan wacana Islam yang moderat dan inklusif, sekaligus mendukung program pendidikan yang memasukkan nilai-nilai toleransi ke dalam kurikulum sekolah.
Dalam sambutannya, Duta Besar Nabila Makram menyampaikan apresiasi yang mendalam atas peran perempuan dalam memajukan budaya hidup berdampingan. Ia menggambarkan perempuan sebagai "topeng masyarakat," melindunginya melalui nilai-nilai yang mereka tanamkan. Perempuan, katanya, adalah pembawa perdamaian, penyampai nilai-nilai, dan pembawa warisan budaya.
Duta Besar Nabila Makram memuji kontribusi Yang Mulia Syeikha Fatima binti Mubarak terhadap pemberdayaan perempuan di UEA dan memuji inisiatif "Forum Pembawa Perdamaian yang Baru Muncul" yang diluncurkan oleh MHM. Ia juga menyatakan kebanggaan atas partisipasinya dalam upacara penandatanganan Dokumen Persaudaraan Manusia, dengan menarik perhatian pada Pasal 10, yang menggarisbawahi hak-hak perempuan atas pendidikan dan pekerjaan.
Duta Besar Makram menyampaikan apresiasinya atas upaya MHM, di bawah kepemimpinan Grand Syekh Al Azhar, Imam Akbar Ahmed Al Tayeb, dan Sekretaris Jenderal MHM Konselor Mohamed Abdelsalam, dalam menyelenggarakan seminar yang sangat penting ini. Ia juga mengingatkan tantangan erosi identitas di ruang digital yang belum diatur saat ini, dengan menekankan perlunya menjaga bahasa Arab sebagai pilar identitas budaya.
Ia berbagi pengalamannya dengan inisiatif “Speak Arabic”, yang berevolusi dari “Speak Egyptian” mengikuti arahan Presiden Abdel Fattah El-Sisi—menyoroti kekuatan bahasa dalam melestarikan rasa memiliki nasional. Ia juga mengakui upaya Mariam Al Kaabi, Duta Besar UEA untuk Mesir, dalam memperjuangkan pembangunan masyarakat.
Duta Besar Makram menyerukan peran yang lebih besar bagi lembaga pendidikan dalam menanamkan nilai-nilai saling menghormati dan menerima—terutama di tengah maraknya ujaran kebencian dan polarisasi. Ia juga menyoroti keterlibatannya dengan Aliansi Nasional Mesir untuk Pembangunan Masyarakat Sipil, sebuah koalisi yang terdiri atas lebih dari 100.000 relawan, termasuk sejumlah besar perempuan.
Ia menegaskan bahwa perempuan secara konsisten telah menunjukkan kekuatan, ketahanan, dan persatuan di masa krisis. Duta Besar Makram selanjutnya memuji Observatorium Al-Azhar atas perannya dalam melindungi anak-anak dan remaja dari ideologi ekstremis, menekankan bahwa hidup berdampingan secara damai tidak dapat dicapai tanpa partisipasi aktif perempuan di semua bidang kehidupan.
Paviliun MHM di Pameran Buku Internasional Abu Dhabi 2025 menampilkan lebih dari 250 publikasi intelektual dan budaya yang beragam, termasuk pilihan terbitan terbaru dari Al-Hokama Publishing. Karya-karya ini membahas beberapa isu intelektual dan budaya yang paling mendesak di zaman kita dan mencerminkan misi MHM untuk mempromosikan perdamaian, mendorong dialog, dan menanamkan nilai-nilai toleransi dan persaudaraan manusia. Paviliun MHM terletak di Aula 10, stan 10C35.