Perkuat Toleransi, TGB Tekankan Pentingnya Membangun Budaya Damai dan Dialog
Dialog tentang Toleransi dan Pelestarian Alam
Anggota Komite Eksekutif Majelis Hukama Muslimin (MHM) TGB M Zainul Majdi mengatakan, untuk menguatkan toleransi, perlu membangun budaya damai. Hal itu tidak bisa dilakukan dengan memelihara eksklusivitas, tapi harus membuka ruang dialog.
Upaya untuk membangun budaya damai itu, kata TGB Zainul Majdi, antara lain tercermin dari penandatanganan Dokumen Persaudaraan Manusia oleh Grand Syekh Al Azhar Ahmed Al Tayeb dan Paus Fransiskus pada 4 Februari 2019.
“Itu dokumen paling kuat antara tokoh tertinggi dunia muslim dan tertinggi di dunia katolik yang menunjukkan komitmen bertoleransi, bekerja sama, bukan untuk kepentingan umatnya masing-masing saja, tapi untuk umat manusia,” sebut TGB Zainul Majdi saat menjadi narasumber pada Dialog tentang pentingnya menjaga toleransi dan kelestarian alam di Jakarta, Senin (11/11/2024).
Dialog digelar dalam rangka menyambut Hari Toleransi Internasional sekaligus menyongsong penyelenggaraan Conference of the Parties ke-29 (COP29) yang berlangsung di Baku, Azerbaijan. Hadir juga sebagai narasumber, pendiri dan anggota MHM Prof Dr M Quraish Shihab, MA dan Direktur MHM kantor cabang Indonesia, Dr. Muchlis M Hanafi, MA.
“Toleransi tidak terbatas saling menghormati, tapi juga bekerja sama dalam isu konkrit terkait umat manusia. MHM concern dengan isu perubahan iklim,” sambungnya.
Aksi Iklim
Berkenaan dengan masalah perubahan iklim, TGB menegaskan bahwa isu itu juga menjadi bagian dari concern MHM. Menurutnya, salah satu sumber konflik masyarakat global ke depan adalah ekses dari pemanasan global.
“Pemanasan global berdampak pada naiknya air laut, mengancam masyarakat pesisir yang juga adalah kelompok marginal. Pemanasan suhu global juga mengancam rantai pasokan pangan dan bisa menyebabkan penyakit yang tidak diketahui sebelumnya. Permasalahan global pada akhirnya akan menciptakan renteten dari konflik,” ujarnya.
“MHM ikut berupaya membahas masalah pemanasan global karena ini tidak hanya menjadi tantangan ahli saintis, tapi juga ahli agama untuk menerjemahkan pesan-pesan agama,” sambungnya.
Sejumlah upaya telah diinisiasi MHM, antara lain menghadirkan Paviliun Iman pada COP28 di Abu Dhabi dan COP29 di Azerbaijan. Paviliun Iman ini menjadi platform bagi para tokoh agama untuk bertemu dengan para penentu kebijakan dunia dan berdialog hingga timbul kesepahaman bersama tentang masalah aksi iklim.
“Kita bersykur dalam kasus perubahan iklim, agama, sains, opini publik mengarah pada arah yang sama bahwa ini harus segera ditangani dengan sungguh-sungguh,” tegasnya.
Sekjen MHM Konselor Mohamed Abdelsalam, kata TGB, dalam pertemuan para tokoh agama dunia di Baku, menyampaikan pandangan sangat lugas kepada pemimpin dunia, bahwa aksi iklim bukan pilihan, tapi keharusan absolut untuk mesa depan dunia. Pesan seperti ini sering disampaikan jajaran pimpinan MHM kepada pemimpin dunia dalam setiap pertemuan.
“MHM terus menjalin komunikasi dengan para penentu kebijakan terkait toleransi dan aksi iklim. Sekjen PBB sangat apresiatif. Bahkan, hari penandatanganan dokumen persaudaraan ditetapkan sebagai Hari Persaudaraan Manusia Internasional,” sebutnya.
“MHM juga terus menghimpun para tokoh agama, tokoh lintas agama, termasuk tokoh agama lokal. Dalam tataran ini MHM bekerja, termasuk di Indonesia,” tandasnya.