Prof Quraish Shihab Jelaskan Kunci Membumikan Piagam Persaudaraan Kemanusiaan
Ketua Majelis Hukama Al-Muslimin (MHM) yang juga Imam Akbar Al-Azhar Dr Ahmad Al-Thayeb bersama Pimpinan Gereja Katolik Sri Paus Fransiskus telah menandatangani “Piagam Persaudaraan Kemanusiaan untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama”.
Anggota MHM dari Indonesia Prof Dr. M. Quraish Shibah, MA menjelaskan sejumlah kunci untuk dapat membumikan piagam ini di bumi Nusantara. Penjelasan itu disampaikan Prof Quraish saat memberikan sambutan pada Forum Titik Temu yang diprakarsai oleh Nurcholish Madjid Society, Jaringan Gusdurian dan MAARIF Institute For Culture And Humanity di Jakarta, Rabu (18/9/2019).
Forum ini mengangkat tema ‘Kerja Sama Multikultural untuk Persatuan dan Keadilan’. Forum ini dibuka oleh Presiden Joko Widodo dan dihadiri sejumlah tokoh, antara lain: istri Presiden ke-4 RI Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid.
Menurut Prof Quraish, jika ingin membumikan Piagam Persaudaraan, maka harus memberikan perharitan penuh pada pesan yang dikemukakan oleh Imam Akbar Dr Ahmad Al-Thayeb dan Sri Paus Fransiskus. Pesan itu adalah kesadaran akan tanggung jawab, serta upaya menyebarluaskan Kedamaian melalui penerapan Keadilan dan Pendidikan.
Umat manusia, lanjut Prof Quraish, dilukiskan sebagai berada dalam satu perahu yang bertingkat dua. Kalau yang berada di tingkat pertama ingin memperoleh air dengan jalan melubangi perahu, maka perahu akan tenggelam. “Adalah merupakan tugas mereka yang berada di tingkat dua perahu, untuk mencegah mereka siapapun yang bermaksud mengambil air dengan melubangi perahu. Karena kalau tidak, semua akan tenggelam bersama perahu yang mereka tumpangi. Begitu ilustrasi Nabi Muhammad saw menyangkut umat manusia,” jelas Prof Quraish.
“Nah membumikan nilai-nilai Dokumen Piagam Persaudaraan Manusia itu, adalah cara menyelamatkan umat manusia yang harus dilakukan melalui apa yang dikemukakan oleh kedua tokoh penanda tangan Piagama itu, Paus dan Grand Syekh, yakni Kesadaran akan tanggung jawab serta Pendidikan dan Keadilan,” sambungnya.
Sebagai anggota MHM yang juga hadir saat peristiwa kesepakatan bersejarah di Uni Emirat Arab tersebut, Prof Quraish menjelaskan bahwa menjelang penandatanganan Piagam Abu Dhaby itu, diadakan seminar yang dihadiri tokoh-tokoh berbagai agama – Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan Yudaisme. Ketika itu, Prof Quraish mengaku suasana kebatinan tentang persaudaraan dan pentingnya kedamaian.
“Semua menegaskan bahwa kedamaiaan bukan saja ajaran agama yang sangat esensial tetapi dambaan kemanusiaan karena yang tidak beragama pun mendambakan kedamaian ini,” tuturnya.