R20, Dialog Bahrain, dan Harapan Penguatan Koeksistensi
R20, Dialog Bahrain, dan Harapan Penguatan Koeksistensi
Di awal November 2022 ini akan berlangsung dua kegiatan penting yang melibatkan para tokoh besar lintas agama di dunia. Pertama, Forum R20 yang diadakan di Nusa Dua, Bali, 2-3 November 2022, dan rencananya dibuka secara resmi oleh Presiden Joko Widodo.
Kedua, Forum Dialog Bahrain, 3 - 4 November 2022 yang dihadiri Grand Syekh Al-Azhar Mesir dan pemimpin gereja Vatikan Paus Fransiskus. Dialog Bahrain melibatkan 200 tokoh agama dan cendekiawan dunia. Dari Indonesia, hadir Prof Dr Quraish Shihab dan TGB Dr Zainul Majdi.
Dua kegiatan itu sangat menarik. Misalnya R20, di mana untuk pertamakalinya dalam sejarah, Konferensi Tingkat Tinggi G20 menyertakan agama-agama dunia sebagai bagian dari solusi untuk krisis global. Begitu juga Dialog Bahrain yang mengusung isu koeksistensi manusia di Dunia Barat dan Dunia Timur. Kita sangat berharap dua agenda besar pertemuan tokoh besar lintas agama itu dapat menghasilkan rumusan rekomendasi yang disepakati bersama untuk perdamaian dunia.
Harapan itu sangat wajar sebab meskipun dua tahun lebih dunia dilanda pandemi Covid-19, akan tetapi tidak menghentikan konflik bersenjata maupun konflik sosial. Di negeri kita, konflik bersenjata tetap terjadi yang melibatkan kelompok separatis Papua dengan TNI. Di Filipina, negara yang paling dekat dengan Indonesia, ketegangan kembali terjadi setelah Presiden Dutirte menuduh kelompok Komunis membunuh dua serdadu yang menyalurkan bantuan pangan. Di Myanmar, pemimpin militer Tatmadaw menggencarkan serangan senjata terhadap kelompok etnis bersenjata Rakhine, Karen, dan Shen bagian utara.
Konflik bersenjata juga masih terjadi di saat pandemi Covid antara kelompok Houthi di Yaman dengan Saudi Arabia. Di Afrika, kelompok teror yang berafiliasi al-Qaida dan ISIS gencar melancarkan serangan paling mematikan terhadap aparat keamanan di negara Chad, Sahel, dan Somalia. Di Mesir juga tak luput terjadi teror terhadap penduduk di Utara semenanjung Sinai.
Begitupun, sesudah pandemi Covid melandai, India kembali diambang konflik sosial terkait ramainya isu kebencian terhadap salah satu agama. Bahkan, sempat ada seruan melakukan genosida umat muslim di sana oleh kelompok ekstremis Hindu. Konflik bersenjata yang paling dahsyat setelah pandemi adalah perang Rusia-Ukraina yang tak kunjung usai sehingga mengakibatkan inflasi dan ancaman krisis pangan di berbagai negara di belahan dunia.
Menyelesaikan konflik global tak bisa dilakukan oleh pemerintah saja, akan tetapi penting melibatkan kaum agamawan yang juga memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat dunia. Dalam komunitas muslim, di balik keanggotaan Liga Muslim Dunia, terdapat NU sebagai representasi organisasi keagamaan yang memiliki anggota lebih kurang 120 juta Muslim moderat atau lebih dari 40% populasi Indonesia.
Di komunitas Katolik terdapat Sri Paus Fransiskus yang menjadi pemimpin pusat gereja Katolik di seluruh dunia. Di komunitas Kristen terdapat Aliansi Evangelis Protestan Dunia, yang mewakili 600 juta orang di 143 negara. Keberadaan mereka tentu sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah deharmonisasi di balik isu identitas yang hingga kini masih menyelimuti penduduk dunia.
*Koeksistensi Manusia*
Koeksistensi ialah sikap mengenal, memahami, dan mau hidup bersama. Dalam bahasa al-Quran disebut "lita'arafu". Firman Allah Swt: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal..." (QS. Al-Hujurat: 13).
Koeksistensi penting didengungkan kembali untuk mengingatkan kita semua sebagai pribadi maupun sekelompok masyarakat dengan sejarah, budaya, dan identitas yang berbeda, namun dapat hidup bersama secara damai. Koeksistensi pada dasarnya menjadi inti fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang kapan dan di manapun selalu membutuhkan manusia yang lain. Sekalipun kita berbeda dan memiliki pandangan yang satu sama lainnya tidak sama namun kita memerlukan keadaan hidup berdampingan yang damai. Itulah yang dimaksud koeksistensi manusia.
Koeksistensi manusia memiliki kedalaman makna dibandingkan koeksistensi damai yang pernah dikembangkan dan diterapkan oleh Uni Soviet pada berbagai kesempatan sepanjang Perang Dingin. Dalam konteks kebijakan luar negeri, koeksistensi damai diterapkan oleh negara sosialis yang dipengaruhi Soviet sehingga mereka dapat eksis secara damai bersama blok kapitalis. Koeksistensi damai merupakan jalan tengah di antara prinsip kontradiksi antagonis bahwa komunisme dan kapitalisme tidak akan pernah eksis secara damai. Negara yang tampak berhasil menerapkan koeksistensi damai adalah Cina ketika negara ini berhasil memenangkan persaingan global tanpa melalui peperangan.
Koeksistensi manusia tidak hanya untuk menghindari peperangan dan melakukan genjatan senjata. Akan tetapi benar-benar bertujuan mengenali dan memahami serta mau hidup bersama sekalipun kita berbeda dalam banyak hal. Koeksistensi manusia diharapkan dapat meredam gejala penguatan identitas yang akhir-akhir ini muncul sebagai alat untuk menyebarkan kebencian kelompok yang berujung pada konflik dan kekerasan.
Pandangan positif tentang keragaman manusia dan pluralitas ini mendorong kita mau berunding, bernegosiasi, berdialog, dan berdiskusi yang jujur dan realistis di dalam internal dan eksternal komunitas sosial, bangsa, dan negara. Di samping itu kita juga dapat memasukkan nilai-nilai moral dan spiritual ke dalam kekuatan geopolitik dan ekonomi selama proses pembentukan kembali norma-norma dan nilai baru untuk menyesuaikan diri dengan perubahan.
Kita sama-sama paham bahwa deharmonisasi dan konflik yang sering terjadi adalah sebagai akibat dari ketidaksiapan kita menghadapi perubahan. Supaya kita kembali kepada fitrah manusia sebagai makhluk sosial diperlukan reintegrasi dan koeksistensi dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan dengan memperbaiki keamanan, perdamaian, serta meminimalisir kekerasan ataupun konflik struktural.
*Peran Muslim Moderat*
Kontribusi R20 dan Forum Bahrain dalam penguatan koeksistensi telah ditunggu masyarakat dunia. Utamanya peran dari unsur muslim moderat yakni NU sebagai pemrakarsa R20 dan Majlis Hukama Muslimin (MHM) sebagai motor pelaksanaan Forum Bahrain. Jejaring muslim moderat itu dipandang mampu berperan untuk meyakinkan kepada masyarakat dunia bahwa agama berfungsi sebagai solusi sejati dan dinamis, bukan sebagai sumber masalah pada abad 21.
Dua agenda besar yang dilakukan oleh jejaring muslim moderat di akhir tahun 2022 ini merupakan bentuk konkrit bagaimana dialog antar agama dibangun untuk menyelesaikan konflik global. Peran mereka sangat penting dan strategis dalam menghadapi berbagai tantangan zaman melalui langkah dan solusi nyata dari sudut pandang keagamaan. Diharapkan pandangan keagamaan itu dapat meringankan dampak negatif berbagai krisis yang dihadapi umat manusia di dunia.
Di antara tantangan-tantangan yang kini dihadapi umat manusia adalah perubahan iklim yang berpengaruh terhadap pangan, air, dan penyebaran penyakit sebagai alarm peringatan terjadinya bencana kemanusiaan. Untuk merespon masalah itu dibutuhkan peran aktif jejaring muslim moderat, mengingat yang paling merasakan dampaknya adalah penduduk di negara-negara miskin dan berkembang yang kebanyakannya beragama Islam.
Jadi, sangat wajar kita menumpukkan harapan kepada jejaring muslim moderat yang selama ini dianggap telah berhasil melalui proses koeksistensi. Kita semua berharap agenda besar R20 maupun Forum Dialog Bahrain berjalan lancar sesuai yang direncanakan dan menghasilkan rekomendasi problem solving untuk perdamaian maupun kesejahteraan ummat manusia di dunia.
M. Ishom el Saha (Ketua Rumah Moderasi UIN Sultan Maulana Hasanuddin, Banten)