Sekjen Majelis Hukama Al-Muslimin Ajak Industri Media Lawan Intoleransi
Sekjen Majelis Hukama Al-Muslimin (MHM) Dr. Sultan Al Remeithi mengajak industri media untuk melakukan yang terbaik dalam melawan ujaran kebencian, intoleransi, dan manipulasi politik. Ajakan ini disampaikan Al Remeithi saat memberikan sambutan pada konferensi 'Media Melawan Kebencian' yang berlangsung di Ibu Kota Yordania, Amman.
Konferensi ini digelar MHM bekerja sama dengan Pusat Kajian dan Media Katolik dan di bawah perlindungan Pangeran Ghazi bin Mohammed, selaku Anggota MHM dan Penasihat Raja Abdullah II dari Yordania. Konferensi ini diikuti lebih dari seratus profesional media Arab.
“Konferensi ini bertujuan untuk menciptakan koalisi profesional media untuk melawan ujaran kebencian dan diskriminasi di media Arab. Hal ini dapat dicapai melalui penguatan standar etika dan piagam media yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Sementara lanskap media saat ini dipenuhi dengan praktik-praktik hebat, kami memiliki banyak ruang untuk memperbaikinya lebih lanjut dan ini adalah sesuatu yang kami tuju dengan menyediakan sumber daya dan pelatihan yang diperlukan untuk jurnalis dan organisasi. Saya menyerukan seluruh industri media untuk melakukan yang terbaik untuk melawan intoleransi dan manipulasi politik,” kata Al Remeithi, Senin (27/9/2021).
Al Remeithi menyampaikan terima kasih kepada Raja Abdullah II dari Yordania karena telah membangun model koeksistensi dan toleransi yang unik. Ungkapan terima kasih juga disampaikan Al Remeithi kepada Pangeran Ghazi bin Mohammed atas dukungannya untuk penyelenggaraan konferensi 'Media Melawan Kebencian'.”
Atas nama Pangeran Ghazi bin Mohammed, mantan Menteri Urusan Media Yordania Dr. Mohammed Al Momani, dalam pidato pembukannya menyampaikan komitmen Yordania untuk terus membela nilai-nilai kemanusiaan.
“Yordania berada di garis depan negara-negara yang membela nilai-nilai kemanusiaan dan beradab, sebagai salah satu peserta pertama dalam perang melawan teror. Konferensi ini tidak diragukan lagi akan berfungsi sebagai counter terhormat terhadap ujaran kebencian yang telah menyerbu berbagai platform media,” ujarnya.
“Saya juga mendorong semua peserta konferensi untuk mengambil bagian dalam studi dan pelatihan untuk membendung gelombang ujaran kebencian di media,” sambungnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian dan Media Katolik di Amman, Pastor Rifat Badr mengatakan, “Alat komunikasi dapat berfungsi sebagai blok bangunan untuk jembatan cinta, bukan dinding segregasi, diskriminasi, dan kebencian. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua awak media yang telah bekerja tanpa lelah untuk menjaga solidaritas selama pandemi Covid-19. Kita harus terus memfokuskan upaya kita untuk menyelenggarakan konferensi dan seminar yang mempromosikan praktik media yang etis dan mempromosikan perdamaian di media,” tandasnya.