Sekjen MHM: Pegangi Pesan Agama dalam Menghadapi Krisis Lingkungan
Sekjen MHM Mohamed Abdelsalam
Kerusakan lingkungan masih terus terjadi di berbagai negara. Hal itu mengakibatkan terjadinya krisis perubahan iklim dan berdampak negatif pada alam dan manusia, serta mengancam pada kehidupan kontemporer.
Sekjen Majelis Hukama Muslimin (MHM) Konselor Mohamed Abdelsalam mengajak semua pihak untuk lebih memperhatikan isu lingkungan. Dia menyerukan perlunya berpegang teguh pada pesan agama dalam menghadapi krisis perubahan iklim.
“Kita perlu berpegang pada pesan-pesan agama dalam menghadapi krisis lingkungan,” demikian pesan yang disampaikan Abdelsalam saat berbicara secara virtual di hadapan ratusan peserta diskusi “Peran Pemuda untuk Lingkungan Hidup yang Lebih Baik” pada Islamic Book Fair (IBF) ke-20 di Jakarta (5/8/2022).
Sekjen juga mengajak pihak terkait untuk memasukkan isu lingkungan hidup dan perubahan iklim ke dalam kurikulum pendidikan. Menurutnya, perlu upaya dini untuk membangun dan meningkatkan kesadaran generasi muda akan dampak negatif dari kerusakan lingkungan.
“Pemuda adalah harapan masa depan dan kekuatan yang mampu melindungi dan menyelamatkan masyarakat dari kerusakan lingkungan hidup yang mengancam,” ujarnya.
Konselor Abdelsalam juga mengajak masyarakat untuk mendukung langkah Mesir dan Uni Emirat Arab dalam penyelenggaraan COP 27 dan COP 28. Dua kegiatan ini dihelat untuk membangun kebijakan dan strategi dalam mengatasi bahaya krisis perubahan iklim yang mengancam seluruh umat manusia.
Pada simposium yang diselenggarakan MHM di panggung utama IBF 2022, Abdelsalam mengapresiasi peran besar para pemimpin dan pemuka agama di dunia dalam menghadapi krisis perubahan iklim. Abdelsalam misalnya menyinggung pertemuan tentang perubahan iklim yang diselenggarakan oleh Paus Fransiskus tahun 2021. Pertemuan ini dihadiri oleh Imam Akbar Prof. Ahmed Al-Tayeb, Syekh Al-Azhar dan Ketua MHM serta sejumlah pemimpin lainnya. Mereka meluncurkan “Seruan Melindungi Lingkungan Hidup”.
Ditegaskan Abdelsalam, MHM terus berupaya melakukan langkah besar untuk dunia yang lebih baik dan lebih harmonis bagi semua manusia. MHM juga terus mempromosikan koeksistensi dan mendorong sinergi semua pihak dalam menghadapi tantangan dunia saat ini. Menurutnya, isu perubahan iklim akan menjadi isu utama yang akan dibahas dalam Forum Perdamaian yang akan diadakan tahun depan. MHM sedang melakukan koordinasi dengan lembaga-lembaga terkait dalam rangka meningkatkan kesadaran mengenai masalah yang serius ini. Abdelsalam mengapresiasi Universitas Al-Azhar yang telah mengambil langkah ke arah ini.
Di sela-sela pameran, Wakil Presiden yang hadir memberikan sambutan pada Diskusi Publik MHM bertajuk “Aspek Kemanusiaan Peradaban Islam” (5/8/2022) sempat meninjau stan MHM dan Al-Azhar yang memamerkan buku-buku bertema moderasi yang ditulis oleh ulama dari berbagai negara, terutama dari Al-Azhar Mesir. Wapres berharap kiranya terbitan MHM dan Al-Azhar dapat berkontribusi membentengi generasi muda Islam dari pemikiran ekstrem sekaligus melawan islampofobia. Di antara buku yang mendapat perhatian besar pengunjung adalah Al-Qaul al-Thayyib karya Imam Akbar Syekh Ahmad Al-Tayyeb, baik yang berbahasa Arab maupun bahasa Indonesia.
Majelis Hukama Muslimin adalah sebuah lembaga independen lintas negara yang didirikan pada 21 Ramadan 1435 H atau 19 Juli 2014. MHM bertujuan mengukuhkan perdamaian dan menciptakan rasa aman pada masyarakat muslim. Lembaga yang berkedudukan di Abu Dhabi ini beranggotakan sejumlah ulama, pakar, dan tokoh yang memiliki karakter bijak, adil, independen, dan berpikiran wasathiyah. Ulama besar Indonesia Prof. Dr. M Quraish Shihab adalah salah seorang pendiri dan anggotanya, sementara TGB M Zainul Majdi menjadi salah seorang anggota Komite Eksekutif MHM.
MHM berupaya menyatukan umat Islam dan meredam konflik yang mengancam nilai-nilai kemanusiaan dan prinsip dasar Islam toleran yang dialami oleh Dunia Islam sejak beberapa dekade terakhir.