Seminar MHM pada Pameran Buku Internasional Baghdad Bahas Tantangan Dialog Intra-Islam
Seminar MHM pada Pameran Buku Internasional Baghdad
Paviliun Majelis Hukama Muslimin pada Pameran Buku Internasional Baghdad menyelenggarakan seminar berjudul "Dialog Intra-Islam dan Tantangan Bersama", Jumat (20/9/2024). Seminar ini menghadirkan Syekh Dr. Mahmoud Abdulaziz Al-Ani (Presiden Dewan Cendekiawan Irak) dan Dr. Jawad Al-Khoei (Presiden Dar Al-Ilm lil Imam Al-Khoei). Selaku moderator, Dr. Samir Boudinar (Direktur Pusat Penelitian Perdamaian Al-Hokama).
Acara ini dihadiri para tokoh terkemuka, termasuk Dr. Hassan Nazim, mantan Menteri Kebudayaan, Pariwisata, dan Purbakala Irak serta juru bicara pemerintah Irak, bersama dengan pejabat, cendekiawan, dan intelektual Irak lainnya.
Dr. Samir Boudinar menekankan bahwa paviliun MHM pada Pameran Buku Internasional Baghdad bertujuan menyelenggarakan serangkaian seminar yang berpusat pada dialog intra-Islam, mengeksplorasi aspek intelektual, doktrinal, sosial, dan budaya.
Ia menekankan kebutuhan mendesak untuk menghidupkan kembali dialog intra-Islam dalam masyarakat Arab dan Islam, terutama mengingat tantangan signifikan yang dihadapi umat Islam secara global dalam hal-hal ilmiah, peradaban, moral, dan terkait identitas, serta dalam mengamankan masa depan yang sejahtera bagi anak-anak Umat dan generasi mendatang. Dialog ini, katanya, sangat penting bagi Umat untuk merebut kembali warisan sejarah dan peradabannya.
Dr. Boudinar menambahkan bahwa dialog intra-Islam harus didasarkan pada prinsip-prinsip yang kuat untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Ia menyoroti pentingnya memiliki otoritas agama dan ulama yang tepercaya untuk memimpin dialog ini, karena kata-kata mereka berfungsi sebagai panduan untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi masyarakat Islam dan umatnya. Ia juga merujuk pada seruan bersejarah yang disampaikan oleh Grand Syekh Al Azhar, Imam Akbar Dr. Ahmed Al-Tayeb, selama Forum Dialog Bahrain pada tahun 2022, di mana ia mendesak umat Islam untuk melampaui perpecahan masa lalu dan bersatu di meja dialog untuk menyembuhkan keretakan dan mencapai persatuan, yang ia gambarkan sebagai esensi identitas mereka sebagai anggota Umat Islam.
Sheikh Dr. Mahmoud Abdulaziz Al-Ani menunjukkan bahwa dialog adalah salah satu anugerah unik yang diberikan Allah kepada manusia, yang memberi mereka kemampuan untuk menggunakan bahasa sebagai alat utama untuk berkomunikasi. Namun, bahasa ini dapat menjadi penghalang ketika istilah tidak didefinisikan dengan jelas, yang menyebabkan kesalahpahaman dan terputusnya dialog. Ia menekankan pentingnya menyepakati definisi istilah yang jelas dan umum untuk memastikan diskusi yang produktif dan menghindari salah tafsir atau penyimpangan dari topik.
Presiden Dewan Cendekiawan Irak juga mencatat bahwa keyakinan dan kepercayaan yang membentuk seseorang adalah elemen kunci lain dari dialog. Meskipun dialog keagamaan sangat penting, dialog tersebut harus didekati dengan hati-hati dan seimbang untuk menghindari dominasi diskusi intra-Islam. Ia menjelaskan bahwa perbedaan dalam menafsirkan teks-teks agama harus ditangani melalui landasan bersama yang mendorong pemahaman dan komunikasi. Ia menekankan bahwa fokus utama dialog intra-Islam haruslah menemukan cara untuk bekerja sama guna mencapai pembangunan dan membangun masyarakat Islam.
Dr. Jawad Al-Khoei menyoroti bahwa Dar Al-Ilm lil Imam Al-Khoei selalu menjadi yang terdepan dalam lembaga yang mendukung dialog antar sekte, agama, dan budaya. Lembaga ini telah membangun kemitraan yang kuat dengan lembaga-lembaga keagamaan terkemuka, termasuk Al-Azhar, yang ia gambarkan sebagai mercusuar moderasi dan sentrisme. Kemitraan ini, katanya, telah menghasilkan beberapa inisiatif bersama yang mempromosikan dialog konstruktif dan saling pengertian. Dr. Al-Khoei juga menyebutkan hubungan strategis yang mendalam antara Dar Al-Ilm lil Imam Al-Khoei dan MHM, karena mereka berbagi tujuan bersama dan bekerja sama untuk membangun jaringan hubungan bersama.
Dr. Al-Khoei lebih lanjut menekankan bahwa dialog intra-Islam memainkan peran penting dalam memerangi ekstremisme dan menyatukan Umat dalam menghadapi tantangan yang mengancam keberadaannya. Dialog ini membantu melestarikan nilai-nilai Islam yang dianut bersama di berbagai sekte dan mazhab pemikiran Islam serta memperkuat hubungan dengan warisan agama. Ia menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan diskusi yang mendalam dan inklusif yang menghasilkan sikap yang bersatu, yang berasal dari rasa tanggung jawab kolektif terhadap semua negara Islam dan terhadap agama ini.
MHM tahun ini berpartisipasi untuk pertama kalinya di Pameran Buku Internasional Baghdad. Hal ini sejalan dengan misinya untuk mempromosikan perdamaian, mendorong dialog dan toleransi, serta membangun jembatan koeksistensi di antara orang-orang dari berbagai ras dan keyakinan. Paviliun, yang terletak di Aula Baghdad (Paviliun H2), memamerkan lebih dari 220 publikasi dalam lima bahasa, termasuk 24 rilis baru yang membahas topik-topik intelektual dan budaya yang signifikan.
Selain itu, paviliun MHM juga menjadi tuan rumah serangkaian seminar dan ceramah yang menghadirkan para pemikir, ulama, dan akademisi terkemuka untuk membahas cara meningkatkan dialog dan pemahaman di antara sekte-sekte Islam dan membangun jembatan komunikasi, yang bertujuan untuk kerja sama dan persatuan yang lebih besar di antara berbagai komponen negara Islam.