Sesi V Konferensi Dialog Intra-Islam Tekankan Pentingnya Meningkatkan Pemahaman Semua Komponen Umat
.
Sesi V Konferensi Dialog Intra-Islam membahas tema "Menanggapi Tantangan dalam Mencapai Pemahaman Intra-Islam", Jumat (21/2/2025). Sessi yang menjadi rangkaia konferensi bertajuk “Sata Bangsa, Satu Masa Depan” ini dipimpin Profesor Dr. Abbas Shoman, Sekretaris Jenderal Dewan Cendekiawan Senior di Al-Azhar. Sesi ini menampilkan panel tokoh ulama dari berbagai negara Muslim
Ayatollah Dr. Sayyid Abu al-Qasim Al-Dibaji, Sekretaris Jenderal Organisasi Yurisprudensi Pan-Islam Dunia, menekankan bahwa pertemuan tersebut merupakan momen penting dalam mempromosikan persatuan di antara Umat Muslim, memperbarui komitmen terhadap nilai-nilai bersama, dan mengonsolidasikan upaya untuk mengatasi tantangan.
"Hari ini kita berkumpul di konferensi dialog ini untuk membahas isu penting mengenai nasib umat Islam kita: masalah persatuan Islam. Ini bukan sekadar slogan yang dikumandangkan di forum-forum atau sekadar kata-kata yang diulang-ulang pada kesempatan tertentu; ini adalah cara hidup dan pilar fundamental untuk mencapai kebangkitan dan martabat bangsa ini, yang dipersatukan oleh satu iman dan tujuan yang luhur. Untuk memperkuat persatuan, langkah-langkah praktis harus diambil melalui pembinaan dialog yang konstruktif di antara para ulama dari berbagai mazhab pemikiran, tidak hanya melalui konferensi dan forum tetapi juga melalui wacana media dan kurikulum pendidikan yang menanamkan budaya saling pengertian," ujarnya.
Profesor Dr. Mustafa Baju, Guru Besar Fikih Islam di Universitas Ghardaia dan anggota Dewan Tinggi Islam Republik Demokratik Rakyat Aljazair, membahas tantangan berbagai hal yang menghambat pemahaman intra-Islam dan cara mengatasinya. Ia menekankan bahwa tantangan merupakan bagian tak terpisahkan dari tatanan universal, dan konflik serta persaingan merupakan aspek penting dari setiap upaya yang bertujuan untuk meningkatkan kemanusiaan, khususnya yang terlihat dalam pesan-pesan kenabian, dengan Islam sebagai yang terdepan. Untuk mengatasi tantangan-tantangan ini, diperlukan penerapan kebijaksanaan yang terinformasi dan upaya-upaya yang sungguh-sungguh, yang menumbuhkan lingkungan positif yang kondusif untuk mewujudkan keberadaan peradaban Umat. Hal ini dapat dicapai melalui langkah-langkah yang tulus menuju pembentukan dialog Islam yang bermakna, yang akan menghasilkan pemahaman yang dicita-citakan dan pembangunan masyarakat manusia yang bijaksana dalam peradaban sejati.
Syekh Dr. Abdul Latif Mahmoud Al Mahmoud, anggota Dewan Tertinggi Urusan Islam, menyampaikan sebuah makalah yang berfokus pada visi, konsep, dan metodologi, yang diikuti oleh anggota MHM Syekh Dr. Farid Al-Miftah dan Syekh Dr. Ibrahim bin Rashid Al-Marikhi. Syekh Al Mahmoud menekankan bahwa keberagaman pemikiran Islam, yang dihasilkan dari interpretasi yurisprudensi yang tepat, harus menjadi katalisator bagi persatuan dan pemahaman, bukan perselisihan dan perpecahan. Ia mencatat bahwa perbedaan adalah sesuatu yang universal dan tidak boleh dilihat sebagai penyebab perpecahan, seraya menekankan bahwa Allah SWT telah memerintahkan kerja sama di antara umat Islam dalam kebaikan dan kebenaran.
Ia menggarisbawahi pentingnya mengakui bahwa perbedaan di antara para ulama terkemuka dalam bidang yurisprudensi, doktrin, dan filsafat tidak mengikis rasa saling menghormati atau manfaat yang diperoleh dari hubungan tersebut. Ia menekankan bahwa mencegah perselisihan karena perbedaan-perbedaan ini bergantung pada pemahaman setiap perspektif untuk menjaga persaudaraan Islam yang berbasis pada iman sebagaimana ditetapkan oleh Allah SWT.
Selain itu, ia menunjukkan bahwa studi perbandingan membantu para mahasiswa Syariah dan disiplin ilmu lainnya dalam memahami berbagai sudut pandang, asalkan mereka bergantung pada sumber asli dari berbagai pendapat yang berbeda tersebut. Ia juga menyarankan bahwa dialog intra-Islam harus mematuhi serangkaian prinsip, terutama mengakui kesamaan di antara berbagai mazhab pemikiran.
Sheikh Nasser Ahmed Khalaf Al-Asfoor, anggota Dewan Tertinggi Urusan Islam di Kerajaan Bahrain, membahas tantangan untuk mencapai pemahaman intra-Islam selama presentasinya di konferensi tersebut. Ia didampingi oleh sesama anggota dewan Dr. Suleiman Sheikh Mansoor Al-Sitri dan Sheikh Mohammed Hassan Abdulmehdi Al-Sheikh. Makalah mereka menyoroti bahwa Islam, dengan prinsip-prinsip agungnya dan ajaran-ajaran yang ramah, mendorong umat Islam untuk hidup berdampingan secara damai, mempraktikkan toleransi, menawarkan nasihat yang tulus, dan menghindari perpecahan dan konflik.
Makalah ini merekomendasikan penguatan dialog doktrinal dan ideologis di antara para cendekiawan dan pemikir dari berbagai aliran Islam dan peningkatan kurikulum pendidikan agama untuk menanamkan nilai-nilai toleransi, pengertian, dan nasihat yang tulus. Makalah ini juga menganjurkan dukungan terhadap media yang mempromosikan kesadaran yang seimbang dan untuk membangun platform dan lembaga yang menyatukan umat Islam di sekitar nilai-nilai bersama, mengatasi perbedaan, dan meningkatkan kesadaran dan budaya individu dan masyarakat. Makalah ini menekankan bahwa menumbuhkan pemahaman Islam adalah tanggung jawab kolektif yang memerlukan upaya berkelanjutan baik pada tingkat individu maupun komunal.
Sir Iqbal Abdul Karim Sacranie, Penasihat Senior di Muslim Council of Britain, menyoroti kebutuhan penting untuk pemahaman intra-Islam dalam komunitas Islam global. Ia menganjurkan penguatan dialog, pendidikan, dan kerja sama untuk membantu umat Islam mengatasi tantangan dan membangun Umat yang lebih kohesif. Yang Mulia Sir Iqbal menekankan bahwa upaya kolektif yang didasarkan pada nilai-nilai Islam bersama dapat mengarah pada harmoni yang lebih besar.
Konferensi Dialog Intra-Islam diselenggarakan sebagai tanggapan atas undangan dari Grand Syekh Al Azhar yang juga Ketua Majelis Hukama Muslimin (MHM), Imam Akbar Prof. Dr. Ahmed Al-Tayeb, dalm Forum Dialog Bahrain pada November 2022. Acara ini diselenggarakan atas dukungan penuh dari Raja Hamad bin Isa Al Khalifa, Raja Kerajaan Bahrain. Pertemuan tersebut menarik lebih dari 400 ulama, pemimpin, otoritas Islam, dan tokoh berpengaruh dari dunia Islam, yang bertujuan untuk memupuk persatuan Islam dan membangun mekanisme dialog ilmiah yang permanen di antara para ulama dan otoritas Islam di seluruh dunia.