UIN Yogya Beri Gelar Doktor Kehormatan Kardinal Vatikan, Ketum PBNU, dan Tokoh Muhammadiyah
Kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta akan memberikan gelar Doktor Honoris Causa (HC) kepada tiga tokoh agama dari Katolik, Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah.
Ketiga tokoh itu adalah Kardinal Miguel Angel Ayuso Guixot, M.C.C.J (Presiden Dewan Kepausan untuk dialog Antaragama Takhta Suci di Vatikan ), KH. Yahya Cholil Staquf (Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), dan Sudibyo Markus (Dewan Advisory Board/Dewan Pakar, HubLu PP Muhammadiyah).
Sidang senat terbuka dalam rangka pemberian gelar doktor kehormatan ini akan digelar pada 13 Februari 2023, di Gedung Prof. H.M. Amin Abdullah atau Multipurpose UIN Sunan Kalijaga. “UIN Sunan Kalijaga adalah rumah bagi semua iman. Tempat yang nyaman bagi semua agama, tradisi, mazhab, dan sepenuhnya mendukung prinsip keragaman kebhinekaan serta menghargai perbedaan,” kata Rektor UIN Sunan Kalijaga Al Makin, Jumat (10/2/2023).
Menurutnya, pemberian gelar kehormatan ini sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras para tokoh dan bukti nyata dalam mendukung perdamaian dan moderasi beragama. NU dan Muhammadiyah, kata Al Makin, adalah pilar bangsa. Sementara Kardinal Ayuso, ikut berperan dalam lahirnya Document On Human Fraternity (Dokumen Abu Dhabi) yang ditandatangani Paus Fransiskus bersama Grand Syekh Al-Azhar Ahmed Al Tayeb pada 4 Februari 2019.
Penandatanganan dokumen bersejarah ini mendapat perhatian dunia. Selain cermin dari persahabatan antara dua tokoh agama besar, Dokumen tersebut memberikan cetak biru untuk budaya dialog dan kolaborasi antar agama. Dokumen itu juga menjadi panduan bagi generasi mendatang untuk memajukan budaya saling menghormati, sebagai pengakuan bahwa kita semua adalah anggota satu keluarga manusia.
“Penganugerahan gelar Doctor Honoris Causa kepada Tokoh Katolik, Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah ini merupakan simbol dari menghargai perbedaan. Kita tidak bisa menyeragamkan semuanya dan membuat semuanya sama, tetapi melihat dan memahami bahwa dengan berbeda kita tetap bisa bersama-sama. Tidak ada unsur untuk konversi menyamakan dan menyeragamkan iman dan tradisi,” kata Al Makin.
“Semoga melalui penganugerahan gelar kehormatan ini dapat memberikan impact (dampak) internasionalnya sehingga Islam Indonesia memberi warna di dunia dan terbukti Islam Indonesia ini Islam yang ramah pada budaya tradisi. Impact geopolitik global ini diharapkan juga sekaligus menghargai dan mengangkat peran Indonesia supaya berperan lebih di dunia, terutama Islam,” tandasnya.