Ulama dan Pesan Moderasi

Prof. Dr. M. Quraish Shihab Prof. Dr. M. Quraish Shihab

Tulisan ini pernah penulis paparakan dalam sebuah kesempatan seminar tentang “Dakwah Islam dan Perubahan Masyarakat Era Digital” pada tahun 2022. Seminar saat itu digelar sebagai rangkaian dari Annual Meeting of Islamic Dakwah yang digelar Majelis Hukama Muslimin (MHM) secara online, bekerja sama dengan sejumlah pihak.

Penulis memulai uraian tentang tema ini dengan menjelaskan pengertian kosakata. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ulama dijelaskan sebagai ahli dalam ilmu agama Islam. Ada kata ahli dalam bahasa Indonesia, dan itu maknanya tunggal.

Dalam bahasa aslinya (Arab), ulama adalah bentuk jamak dari ‘Ālim. Sedangkan ‘ālim adalah orang yang berpengetahuan. Siapapun yang berpengetahuan, dinamai ‘ālim, dari segi bahasa, baik dia ahli maupun bukan ahli. Bahkan, kalau kita merujuk pada penggunaan Al-Qur’an, ulama itu termasuk orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang alam raya, bukan hanya ilmu agama, apalagi ilmu agama Islam.

Di sisi lain, Al-Qur’an membedakan kata ulama dan ‘Ālimūn. ‘Ālimūn juga bentuk jamak dari ‘ālim tetapi itu adalah orang-orang yang ahli dalam bidangnya, pakar. Sedangkan ulama adalah gabungan dari orang-orang yang tidak harus ahli. Jadi, kita semua ini bisa masuk dalam bagian ulama, walaupun pengetahuan kita terbatas. Tetapi, kita bukan atau belum sampai pada tingkatannya kalau bergabung dengan ahli-ahli lainnya yang dinamai ‘Ālimūn. Ini satu yang ingin penulis garis bawahi, sebelum masuk pada pembahasan tentang pesan moderasi beragama

Terkait moderasi beragama, apakah pesan ini ingin ditujukan kepada ulama? Ataukah ulama itu yang dituntut untuk memberikan pesan kepada jemaahnya terkait moderasi beragama?

Orang yang memiliki pengetahuan agama atau pengetahuan apapun, jangan pernah merasa telah tahu segalanya. Setiap orang masih harus belajar. Imam Malik pernah dikunjungi rombongan dari Maroko. Mereka ke Madinah untuk mengajukan sekian puluh pertanyaan. Dari sekian pertanyaan itu, yang dijawab Imam Malik hanya delapan pertanyaan. Sisanya, Imam Malik mengatakan bahwa dirinya tidak tahu

Mengakui ketidaktahuan sudah merupakan setengah dari pengetahuan. Paling tidak, itu menunjukkan bahwa seseorang sudah tahu bahwa dirinya tidak tahu. Apalagi bagi ulama dalam pengertian orang yang masih belum ahli. Karena Imam Malik yang ahli saja berkata demikian

Di era digital ini, siapa pun, orang biasa atau ulama atau ‘ālimūn, dihidangkan kepadanya banyak sekali informasi yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk, yang memiliki akurasi atau tidak. Lantas, apa pesan kepada ulama atau kepada kita semuanya? Pesan para ahli, jangan menjadi seperti Ĥāţibul-Lail, orang yang mengumpul kayu bakar di malam hari. Maksudnya, mengambil segala sesuatu tanpa melalui penelitian, ini benar atau tidak. 

Ketika menjadi pembimbing haji, penulis menyampaikan kepada jemaah yang turun di Muzdalifah, untuk mengambil batu. Hati-hati mengambil bartu. Jangan sampai justru mengambil kotoran binatang yang telah membeku dan mambatu. 

Sayyid Muhammad Rasyid Ridha, dalam buku tafsirnya Al-Manār mengatakan, Imam As-Suyuthi yang begitu hebat dan sangat terkenal, tidak jarang melakukan apa yang dinamai Ĥāţibul-Lail (mengumpulkan apa saja yang didapatinya lalu mencantumkannya dalam buku-bukunya). Karena itu, kita harus sangat kritis.

Pesan kepada para ulama, asatidzah, dai, adalah jangan menjadi Ĥāţibul-Lail. Jangan semua apa yang didapat di internet, lalu diambil dan disampaikan, tanpa melakukan penelitian. Kalau itu dilakukan, kitab isa menjadi penyebar dari kebohongan, kepalsuan, bahkan penyebar dari hal hal yang bertentangan dengan agama

Ingatlah, Innas-sam’a wal-bashara wal-fuāda kullu ulāika kāna ‘anhu mas’ūlā. Ini pesan kepada para ulama, dan tentu lebih lagi yang tidak punya pengetahuan. Alangkah banyaknya kita sekarang ini mengambil tanpa merujuk pada sumber-sumber yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Pesan Moderasi

Banyak istilah yang digunakan sebagai gambaran dari moderasi. Tetapi dalam konteks ustaz dan ustazah, penulis ingin mengangkat bahwa ulama, muballig, ustaz, dan ustazah, penulis berpesan bahwa mestinya mereka menjadi pewaris Nabi. Dan, yang diwariskan Nabi kepada mereka adalah kitab suci. 

Kenapa Allah menurunkan kitab suci kapada para Nabi? Itu supaya para Nabi dan Rasul melalui kitab suci dapat memberi putusan terhadap perbedaan-perbedaan manusia Jadi, ulama yang menjadi pewaris Nabi ini harus berfungsi mewarisi kitab suci dan berfungsi sebagai orang-orang yang memberi solusi bagi problem Masyarakat; bukan menjadi problem masyarakat.

Al-Qur’an menjelaskan, kitab suci diwariskan kepada orang – orang yang terpilih dari hamba-hamba Allah. Mereka itu terbagi menjadi tiga kelompok: dhālimun li nafsihi, muqtashith, dan as-Sābiqūn bil khairāt. Ketiganya dipilih Allah, diwariskan kepadanya Kitab Suci. Kata Ibn Katsir, ketiganya itu baik. Hanya ada yang sangat baik, itulah as-Sābiqūn bil khairāt. Ada yang pertengahan, muqtashith. Dan ada yang biasa-biasa saja.

Dalam konteks memahami moderasi ini, penulis menggarisbawahi kesalahpahaman yang muncul ketika memahami moderasi dalam pengertian wasathiyah. Apa itu? Orang berkata, wasathy itu berarti tengah. Sebenarnya moderasi itu bukan di tengah. Kalaupun anda akan memahami moderasi dalam pengertian di tengah, maka jangan memahaminya di dalam arti pertengahan matematis.

Al-Qur’an menjelaskan ada tiga kelompok orang yang diwarisi Kitab Suci: dhālimun li nafsihi, muqtashith, dan as-Sābiqūn bil khairāt. Apakah moderasi itu yang di tengah? Atau kita dituntut untuk menjadi as-Sābiqūn bil khairāt? Kita dituntut untuk menjadi as-Sābiqūn bil khairāt, bukan yang di tengah itu. Walaupun, kalau tidak dapat mencapai yang tertinggi maka yang di tengah. Kalau tidak dapat mencapai yang di tengah, setelah berusaha, maka yang ketiga. 

Tapi ingat, yang ketiga itu dinamai dhālimun li nafsihi. Kenapa? Karena ia telah diberi secercah ilmu, telah diberi kesadaran tentang kehadiran kitab suci yang tujuannya menjadi solusi bagi problem Masyarakat, tapi itu dia tidak gunakan dengan baik. Jadi sekali lagi moderasi bukan berarti pertengahan. Moderasi adalah yang terbaik. 

Itu sebabnya, ketika Al-Qur’an menyatakan ummatan wasathan itu bukan berarti umat pertengahan. Wasath berarti yang terbaik. Itu sebabnya, kata-kata wasath, mempunyai makna yang terbaik. Kata Awsathuhum (dalam Al-Quran) bukan berarti yang di tengah, tapi tidak tua dan tidak muda, tapi yang terbaik di antara mereka. Jadi dalam era digitalisasi ini, kita harus mencari yang terbaik apabila ingin menerapkan moderasi beragama. 

Dakwah Bil Hikmah

Al-Quran memerintahkan kita untuk beradakwah dengan hikmah. Apa itu hikmah? Salah satu yang cukup popular dari arti hikmah adalah amal ilmiyah dan ilmu amaliyah. Kalau anda ingin menerapkan moderasi dalam era ini, maka lakukanlah sesuatu itu dalam bentuk amal yang bersifat ilmiyah, dan raihlah ilmu yang bersifat amaliyah. Itu hikmah.

Jadi hikmah berbeda dengan ilmu. Hikmah itu bukan sekedar pengetahuan. Tetapi dia adalah pengetahuan plus. Memang dalam konteks menerapkan moderasi, kita tidak hanya membutuhkan ilmu. Kita membutuhkan pengamalan ilmu itu. Kita membutuhkan agar supaya apa yang kita jelaskan itu bisa diamalkan. Kalau tidak bisa diamalkan, itu bukan hikmah. Jadi dakwah dan penjelasan kita harus bisa diamalkan. Salah satu yang menjadikan ilmu bisa diamalkan itu kalau sesuai dengan perkembangan masyarakat, tetapi tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama. Itu dakwah, itu moderasi.

Kita ingin menerapkan itu. Karena itu, ulama-ulama kita pada masa lampau telah menggarisbawahi bahwa bisa sangat keliru seseorang apabila hanya membuka buku-buku lama dan memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan orang-orang pada masanya, jawaban yang sama dengan jawaban ulama-ulama terdahulu. Itu bisa lebih berbahaya, kata Ibn Al-Qayyim, dari pada seorang dokter yang memberi obat kepada seseorang karena gejala penyakitnya demam, lalu anda datang memberi obat yang sama kepada orang lain yang gejala penyakitnya juga demam, tetapi itu bukan penyakit yang diderita olehnya.

Karena itu, fatwa, dakwah, harus selalu melihat kondisi siapa yang dihadapi, masyarakat yang dihadapi. Imam Al-Ghazali berkata, dua orang yang datang kepada anda bertanya, bolehkah saya berenang? Maka jangan sekali-kali langsung berkata boleh atau tidak boleh. Karena boleh jadi si A, kepadanya anda berkata boleh, dan kepada si B anda berkata tidak boleh. Kenapa si A boleh? Setelah anda mengetahui bahwa ia pandai berenang. Kenapa si B tidak boleh? Setelah anda mengetahui bahwa dia tidak bisa berenang. Itu Hikmah.

Begitulah dakwah. Dalam Al-Qur’an (al-Ra’d: 17), Allah melukiskan tentang dakwah. Allah menurunkan dari langit, air hujan. Maka mengalirlah air itu di lembah-lembah sesuai dengan kadar lembah itu. Tidak lebih, sebab bisa banjir. Sesuaikan kadarnya dengan air yang anda berikan. Air itu adalah tuntunan agama. Sesuaikan tuntunan agama yang anda sampaikan itu, sesuai dengan kadar. Ada orang yang wadah hati dan pikirannya lebar, anda boleh memberikan kepadanya yang banyak. Tapi, ada juga yang sempit. 

Jadi kalau apa yang disampaikan pada masa lalu, sesuai dengan keadaan masa lalu, masih sesuai dengan keadaan sekarang, itu kita ambil. Itulah yang dinamai al-Mukhāfadhah ‘alal-Qadīm al-Shālih. Tetapi kalau sudah tidak sesuai, maka kita mengambil apa yang sesuai, kita menghidangkan apa yang sesuai. Jelas bahwa era digitalisasi sekarang ini jauh berbeda dengan era masa lampau. Kita perlu menerapkan moderasi itu.

Diskusi

Dalam konteks moderasi, kita sering kali mendapati orang-orang yang tidak sependapat dengan kita. Mari kita berdiskusi. Salah satu ciri orang yang memiliki sikap moderasi adalah bersedia mendiskusikan pendapatnya dengan pihak lain. Dia tidak peduli, setelah berdiskusi, siapa yang menemukan kebenaran.

Imam Syafii berkata, setiap saya berdiskusi, saya tidak pernah peduli apakah kebenaran yang saya anut, ataukah kebenaran orang lain yang saya temukan lebih benar. Ketika itu, saya akan mengikutinya.

Sering kita mendengar ungkapan bahwa ra’yuna as-shawāb yahtamulil khata’, wa ra’yu ghairina khata’ yahtamilus-shawāb. Pendapat kami benar tapi boleh jadi salah, dan pendapat anda salah tapi boleh jadi benar. Tidak begitu yang diajarkan Al-Qur’an. Al-Qur’an mengajarkan: Inna aw iyyākum la’alā hudan aw fii dlalālin mubīn. Boleh jadi saya yang benar boleh jadi saya yang salah. Boleh jadi juga anda yang benar dan boleh jadi juga anda yang salah.

Kita tidak menuduh yang lain itu salah. Kita tidak menuduh bahwa yang tidak sependapat dan seagama dengan kita itu salah. Dalam keyakinan, kita harus yakin bahwa kita benar. Tapi ketika hidup dalam masyarakat yang berbeda, mari saling bekerja sama, tanpa tuding-menuding, tanpa mengatakan yang non muslim itu kafir.

Dalam Tafsir Fakhrur-Razy, saat menafsirkan ayat Qul yā ayyuhal kāfirūn, dijelaskan mengapa harus ada kata qul? Antara lain dikatakan bahwa Nabi Muhammad sebenarnya, tabiatnya, perasaannya, perangainya enggan menuduh non muslim sebagai kafir, tapi Allah yang perintahkan. Seakan-akan Allah mengatakan, sampaikan kepada mereka bahwa saya tidak akan menyampaikan kata kafir ini kepada kalian, tapi kafir ini adalah perintah Allah kepadaku untuk kusampaikan khusus kepada kamu. Itulah penerapan moderasi.

Ada orang-orang yang enggan menerima moderasi sehingga enggan berdiskusi. Kelau enggan berdiskusi, tidak boleh berdiskusi. Ada pesan orang bijak yang mengatakan bahwa kalau seandainya anda dapat mengalahkan mitra diskusi dengan argumentasi-argumentasinya, tetapi tidak dapat mengalahkan kepala batunya, maka tidak usah berdiskusi dengannya. Mengapa? Karena idzā khātabahumul jāhilūna, qālū salāmā. Apabila diajak berbicara, disapa orang-orang yang jahat, mereka meninggalkan sambil berkata salāmā, saya mencari kedamaian. Itu sebagian dari makna moderasi yang merupakan pesan-pesan dari orang-orang bijak terhadap setiap orang.

Moderasi ini mutlak. Karena ajaran Islam itu adalah moderat. Ada banyak ayat yang berbicara tentang moderasi. Moderasi ini kita ingin terapkan. Moderasi ini ciri ajaran Islam. Kenapa? Karena moderasi itu adalah keseimbangan. 

Moderasi itu digambarkan sebagai neraca. Kalau kita berlebih di kiri, kurangi, lalu isi di sayap timbangan yang kanan. Kalau yang kanan berlebih, ambil, dan isi di sayap yang kiri. Ketika kita melaksanakan moderasi, perlu melihat timbangan itu. Mata kita harus tertuju kepada keduanya. Mata kita harus terbuka, bukan tertutup. Harus melihat keduanya, baru menetapkan apa yang paling sesuai. Kalau kita tidak melihat, maka tidak bisa tahu mana moderasi itu. Kalau kita tidak tahu berapa banyak orang di depan, maka kita tidak bisa mengetahui siapa yang di tengah. 

Jadi moderasi memerlukan pengetahuan dan penerapannya memerlukan hikmah, memerlukan kahati-hatian. Jangan sampai terlalu berlebih, dan berkurang.  Moderasi juga memerlukan emosi yang stabil. Jangan terbawa emosi sehingga marah-marah, meledak-meledak. Jangan juga terbawa emosi terjebak hanya pada uraian penuh canda. Sesuaikan dakwah, uraian, dan fatwa sesuai dengan sasaran yang dihadapi.

Itu sebabnya, Rasululllah waktu diangkat menjadi Nabi diperintahkan pertama kali untuk iqra’ (membaca), tanpa menentukan apa yang dibaca. Baca segalanya yang dapat dibaca. Nanti setelah sekian waktu, baru beliau ditugaskan untuk berdakwah, qum fa andzir. Ini pesan yang perlu kita sadari dalam konteks menerapkan moderasi ini di era digital.

Prof. Dr. M Quraish Shihab (Pendiri dan Anggota Majelis Hukama Muslimin)

Sebar Artikel Ini

Artikel Terkait

https://career.sapharma.co.id/https://www.canadianfirearmsacademy.ca/faq.phphttps://damstudio.dk/prisberegning/https://www.250.rw/abouthttps://www.originx.in/refund_policyhttps://www.discotecatrebol.com/servicios/https://pakembassytashkent.org.pk/visa/http://demontapply.com/system/partner_universitieshttps://emaratdevelopers.com/construction/https://kabayanmop.com/services/https://thailandclean.com/cleaning/https://pakembmanila.org/press-release/https://www.nishtaralumni.com/contact/https://www.servicheck.net/historia/https://www.beautyskinbarcelona.com/contacto/https://www.misunasvalladolid.com/contacto/https://joaquinalaciootorrino.com/accesibilidad/https://elaperitivocerveceria.es/quienes-somos/https://www.calzadosveronicamodaycomplementos.com/reembolso_devoluciones/https://www.topclg.in/contact.htmlhttps://www.danlaw.dk/nyheder/https://vellko.com/travelhttps://rim.rw/loaninterest-tariffhttps://gorillatourrwanda.com/blog/https://dmcg.edu/https://dmu.ae/home/library/https://dpc.edu/fd_events/https://beautyfaceuk.com/blog/https://jus-education.org.uk/wallington/https://sarco.com.pk/contact/https://www.honesty-home.com/home/https://a3elank.com/المدونة/https://taleempro.pk/blog/https://www.nationwidelaptoprepair.com/tracking/https://sunshinehealthcareindia.com/babywipes.htmlhttps://skolbrewery-careers.rw/https://www.logoshop.dk/ufaqs/hvad-hvis-jeg-ikke-synes-om-designet/https://www.newindiamachinery.com/contact/https://umpteeninnovation.in/Term_And_Conditionshttps://alflogistica.com/blog/https://shaziazubair.com/botox/https://ehdpak.org/registration/https://sesoftwaretech.com/pricing/https://superconeng.com/about/https://it.safariwisata.co.id/https://luckypolytank.com/artikel/https://www.pressticargo.co.id/service/https://sarijayautama.co.id/portfolio/https://www.internusaindonesia.com/metal_cutting.phphttps://www.sorianoautocentro.com.uy/quienes-somoshttps://www.municipiovarela.gub.uy/https://www.moreiraservice.com.uy/service-oficial/https://landing.subaru.com.uy/crosstrek/https://vetexoticos.uy/nosotros/https://www.urubus.com.uy/es/https://www.ayala.com.uy/empresa.htmlhttps://www.yaguaron.com.uy/montanahttp://www.luxy.com.uy/productoshttps://www.barracamaldonadopiriapolis.com.uy/presupuestos/https://www.tienda.tuenfermero.com.uy/tienda/https://guiadeo.com/categoria/transporteshttps://elnaranjo.com.uy/carritohttps://tabloidpulsa.id/blog/https://sreeyasewu.com/id/technology/indexhttps://new.jastiphabibi.id/https://desageneng.com/contact/https://haluanutamamaju.co.id/https://www.rutasdelsol.com.uy/en/https://fundacionfenix.uy/programas/https://viajafacil.uy/nosotros/https://cromin.com.uy/es/https://www.onfloor.com.uy/https://www.gamberoniextintores.com/productos/https://www.syar.com.uy/carrito/https://www.theplacefreeshop.com.uy/https://www.estanciarenacimiento.com.uy/https://www.newyorkhome.com.uy/https://teamrentacar.com.uy/https://tecno-show.com.uy/https://www.omniinterior.com.uy/https://www.aju.uy/https://intracs.co.id/berita/https://side-j.id/our-product/https://pemeringkatkreditindonesia.com/laporanhttps://smiec.co.id/turbocharger/https://teropongaspirasimasyarakat.com/home/redaksi/https://www.gamberoniextintores.com/productoshttps://ginpinares.com.uy/en/https://glasspark.uy/galeria/https://www.kamden.uy/servicios/https://www.lostamberitos.com/recetashttps://www.luz-arte.com/https://soslaboral.com.uy/asociados/https://residencialprado.com.uy/nosotros/https://www.feni.com.uy/https://atraccion.com.uy/servicios/https://www.laesquinadelapila.com.uy/tag/clothing/https://www.pickup4x4.uy/accesorios/https://www.popurri.edu.uy/https://www.revistacero.com.uy/category/turismo/https://www.roco.com.uy/
https://pvfamilia.com/about/https://www.special-carbonfiber.com/https://lasabrositacantina.com/home/https://besamemuchosr.com/menu/https://www.hanukbbqsd.com/contact-us/https://propack.com.uy/productos/https://woo.smartel.com.uy/uy/https://www.datacentersummit.com.uy/https://sillasderuedas.com.uy/hero4/https://www.carnavalvelodromo.com.uy/https://www.bungalowscostaesmeralda.com/https://otravintage.com/es/https://www.allianceneumaticos.com.uy/https://www.wingsempirerestaurants.com/accessibilityhttps://www.isushirestaurant.com/location/https://www.espadana.com.mx/menushttps://vidahealthclinic.com/home/https://elaftersocialclub.com/plan-your-event/https://www.raisecom.co.id/https://www.panoramaindahmulia.co.id/https://www.mialihsajeru.sch.id/https://www.11posts.net/accesibilidad/https://www.nurianutricionista.com/sobre-mi/https://www.ouslasalut.com/accesibilidad/https://picofinoo.com/categoria-producto/otros/https://saynatur.com/blog/https://www.teresaquintana.es/formaciones/https://santfruitosalut.com/sample-page/https://www.uggastreetburger.com/contacto/https://conniecapdevila.com/testimonios/https://www.clarabarcelonashowroom.es/ropa/https://nahr-alamal.com/category/منوعات/https://ranji.co.id/projects/https://semaperu.com/blog/https://ridetel.com/sobre-nosotros/https://lostreboles.net/galeria/https://lostucanesdetijuana.com/noticiashttps://primeshoesandmore.com/accessibility/https://buffalofries.com/buffalo-wings-los-angeles/https://moosesbarbershop.com/bookings/https://vabe.ai/