MHM Imbau Pemimpin Agama Tingkatkan Upaya Perdamaian di Tengah Konflik dan Perang Global
.
Majelis Hukama Muslimin (MHM) berpartisipasi dalam Pertemuan ke-24 Sekretariat Kongres Pemimpin Agama-Agama Dunia dan Tradisional yang diselenggarakan pada hari Rabu (7/10/2026) di Astana, ibu kota Kazakhstan. Pertemuan ini dihadiri sejumlah pemimpin agama dan tokoh internasional.
Partisipasi Majelis Hukama Muslimin dalam pertemuan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutannya untuk mendorong dialog antaragama dan antarbudaya serta mempromosikan nilai-nilai hidup berdampingan, persaudaraan kemanusiaan, dan perdamaian.
Dalam pidato pertemuan tersebut, Konselor Mohamed Abdelsalam, Sekretaris Jenderal Majelis Hukama Muslimin, menekankan pentingnya peran pemimpin agama dalam memenuhi tanggung jawab mereka untuk mengatasi tantangan dunia saat ini serta bekerja sama demi mewujudkan perdamaian, saling pengertian, dan kehidupan berdampingan di antara berbagai bangsa dan masyarakat.
Ia menyerukan kepada para pemimpin agama untuk meningkatkan upaya dalam mempromosikan perdamaian dan mendukung inisiatif internasional maupun regional yang bertujuan mengakhiri konflik. Ia juga mengapresiasi kontribusi Uni Emirat Arab terhadap perdamaian regional dan internasional, serta upayanya dalam mempromosikan nilai-nilai toleransi dan persaudaraan kemanusiaan.

Konselor Abdelsalam menyampaikan salam dari Grand Syekh Al Azhar yang juga Ketua MHM, Imam Akbar Dr. Ahmed Al-Tayeb. Sekjen MHM juga menyampaikan apresiasi atas upaya Republik Kazakhstan dalam memajukan dialog antaragama dan antarbudaya serta membina kehidupan berdampingan secara damai. Ia menegaskan pentingnya menindaklanjuti Deklarasi Astana 2025 untuk Perdamaian serta mewujudkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip bersama ke dalam tindakan nyata yang berdampak positif bagi kehidupan masyarakat.
Terkait Artificial Intelligence (AI), Konselor Abdelsalam menyoroti pentingnya memastikan bahwa kemajuan teknologi dipandu oleh prinsip-prinsip etika yang melindungi martabat, privasi, dan kebebasan manusia, sembari memastikan bahwa teknologi tetap menjadi sarana yang bermanfaat bagi kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa sistem cerdas, terlepas dari kemampuannya dalam menyediakan informasi dan menganalisis teks, tidak boleh menggantikan hati nurani manusia, mengambil alih otoritas spiritual, ataupun menjadi sumber panduan keagamaan yang independen.
Ia lebih lanjut menyoroti peran vital lembaga keagamaan dalam mempromosikan nilai-nilai bersama, membina hati nurani manusia, dan menumbuhkan sikap saling menghormati. Dalam konteks ini, ia mencatat bahwa Dokumen Persaudaraan Manusia yang bersejarah, ditandatangani di Abu Dhabi pada 2019 oleh Grand Syekh Al Azhar yang juga Ketua MHM, Imam Akbar Dr. Ahmed Al-Tayeb, bersama mendiang Paus Fransiskus, telah menetapkan prinsip-prinsip martabat manusia serta tanggung jawab bersama demi masa depan umat manusia.
Ia juga menyerukan perluasan kerja sama antarlembaga keagamaan agar mencakup inisiatif di bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, sembari mendorong keterlibatan aktif kaum muda, perempuan, peneliti, dan perwakilan masyarakat setempat dalam merumuskan serta melaksanakan berbagai solusi. Ia menegaskan kembali kesiapan Majelis Hukama Muslimin untuk berkolaborasi dalam inisiatif yang mempromosikan dialog antaragama dan antarbudaya, memperkuat persaudaraan manusia, mengatasi tantangan kontemporer, serta berkontribusi pada perdamaian dan stabilitas.
Turut hadir dalam pertemuan tersebut, Syekh ul-Islam Allahshukur Pashazade, Pemimpin Spiritual Muslim Azerbaijan dan Kaukasus yang juga merupakan anggota Majelis Hukama Muslimin. Ia menekankan pentingnya melanjutkan upaya para pemimpin agama dalam mempromosikan dialog, saling pengertian, serta nilai-nilai perdamaian dan hidup berdampingan.